Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh 5,11%.
Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2024 yang sebesar 5,03%.
Menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, sepanjang tahun 2025 ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp23.821,1 triliun dan atas dasar harga konstan Rp13.580,5 triliun.
“Secara kumulatif ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11%” kata Amalia dalam konferensi pers di Jakarta.
Sementara itu, secara year on year (yoy) ekonomi Triwulan IV/2025 tumbuh 5,39% dibandingkan dengan triwulan yang sama di tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan IV/2025 yang sebesar 5,39% ini merupakan pertumbuhan tahunan triwulan IV tertinggi pascapandemi Covid-19.
Dari sisi domestik kinerja perekonomian pada Triwulan IV/2025 tercatat pergerakan konsumsi masyarakat yang ditunjukkan oleh indeks penjualan eceran riil, pada Triwulan IV/2025 tumbuh, baik secara yoy maupun kumulatif.
“Hal ini juga tercermin dari data yang dikumpulkan BPS antara lain transaksi online baik transaksi ritel maupun marketplace tumbuh 12,2% secara quartal to quartal (qtq),” katanya.
Indikator lainnya, seperti belanja bantuan sosial tunai, nilai transaksi uang elektronik, kartu debit dan kredit juga mengalami pertumbuhan relatif kuat.
Berikutnya aktivitas produksi domestik berada di zona ekspansi dan produksi padi Triwulan IV/2025 tumbuh 7,27% secara yoy dan sepanjang tahun 2025 tumbuh 13,29%.
Indeks kondisi dan prospek bisnis manufaktur juga berada pada zona ekspansi.
Selain itu penjualan listrik Triwulan IV/025 secara yoy tumbuh di kisaran 3,5%, kemudian realisasi investasi dalam negeri dan asing pada Triwulan IV/025 tumbuh 9,74% secara yoy dan 12,66% secara kumulatif.
Mobilitas masyarakat juga meningkat diindikasikan oleh peningkatan jumlah penumpang untuk seluruh moda transportasi dan jumlah wisatawan nusantara, serta adanya momen nataru yang mendorong peningkatan mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi lainnya.
Terakhir kebijakan ekonomi, seperti pengendalian inflasi dan tingkat suku bunga acuan juga terlihat mendukung stabilitas, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dari sisi lapangan usaha, pada Triwulan IV/2025 secara yoy seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan.
Lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB yaitu industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi dan pertambangan, dengan total share ke-5 lapangan usaha ini mencakup sebesar 63,09% PDB.
“Lapangan usaha yang tumbuh tinggi antara lain transportasi dan pergudangan di mana transportasi dan pergudangan ini tumbuh, karena didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat seiring dengan adanya libur nataru, kebijakan stimulus diskon tarif angkutan serta beberapa kebijakan ekonomi lainnya,” jelasnya.
Kedua adalah informasi dan komunikasi, dengan sektor ini tumbuh 8,09%, yang didorong oleh peningkatan aktivitas pengguna internet dan peningkatan traffic data operator seluler.
Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, pada Triwulan IV/2025 konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu dengan memberikan sumbangan 2,68% basis point.
“Selain itu pertumbuhan ekonomi Triwulan IV/2025 juga ditopang oleh komponen PMTB dengan sumber pertumbuhan sebesar 1,96% dan konsumsi pemerintah dengan sumber pertumbuhan 0,43%,” tuturnya.
Pada Januari 2026, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 secara global tumbuh 3,3% dan negara berkembang ekonominya tumbuh sekitar 4,4%, dibandingkan dengan tahun 2024 relatif lebih tinggi daripada capaian global.
Hasil proyeksi IMF ini juga menunjukkan bahwa inflasi negara berkembang pada tahun 2025 relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi global.
Selain itu, dapat kami sampaikan perkembangan pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang utama Indonesia pada tahun 2025.
Pertama Tiongkok tumbuh melambat, tetapi tumbuh stabil secara cumulative to cumulative atau year-to-date (c to c).
Filipina tumbuh melambat secara yoy maupun c to c, tetapi Singapura dan Vietnam tumbuh menguat baik secara yoy maupun secara kumulatif. Malaysia dan Korea Selatan tumbuh menguat pada Kuartal IV yoy.
”Dengan gambaran tersebut kita dapat melihat bahwa ekonomi beberapa mitra dagang utama Indonesia tetap tumbuh di tengah pertumbuhan ekonomi global yang penuh tantangan di tahun 2025,” jelasnya. I





