Indonesia Miliki Semua Prasyarat Penyedia Teknologi Kebencanaan Global

Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana merupakan suatu realitas strategis, sehingga harus menjadi kekuatan nasional, khususnya di bidang penanggulangan bencana.

Perubahan paradigma konsumsi teknologi perlu diubah menjadi paradigma untuk menciptakannya.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri (Wamen) Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard pada Seminar Nasional Road to ADEXCO 2026 dengan tema Implementasi Kemandirian Inovasi Teknologi dan Industrialisasi Kebencanaan.

Melihat besarnya risiko bencana, dia berharap Indonesia menjadi kekuatan sebagai penyedia atau provider teknologi di bidang kebencanaan.

“Kita hidup di atas cincin api, kita berada di jalur gempa, kita menghadapi banjir, longsor, kekeringan dan dihadapkan pada perubahan iklim secara simultan,” ujar Wamen Bappenas.

ADEXCO atau Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference adalah sebuah platform internasional yang diselenggarakan di Indonesia sebagai ajang diskusi dan kolaborasi, bukan hanya bagi Indonesia, tapi untuk negara – negara lain.

Puncak ADEXCO akan dilanjutkan dengan pameran dan konferensi pada 9 – 12 September 2026.

Dengan realitas yang tak dapat dihindari tersebut, Febrian meminta semua pihak bukan dalam posisi reaktif.

Dia mengilustrasikan ketika bencana terjadi, mengalami kerugian, lalu menghitung dan saat membutuhkan teknologi, lalu membeli.

Menurutnya, apabila situasi tersebut terus berlangsung, Indonesia akan tetap berada dalam posisi yang sama, yaitu rentan, mahal dan bergantung.

“Ini bukan strategi sama sekali, ini adalah siklus ketergantungan,” ungkap Wamen Bappenas.

Pada kesempatan itu, Febrian sangat mendukung kemandirian inovasi teknologi dan industrialisasi kebencanaan yang terus diupayakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan semua pihak.

Dia berharap Indonesia bukan lagi menjadi pasar tetapi sebagai provider teknologi kebencanaan global dan tentu beralasan, mengingat Indonesia sangat memahami bencana.

Baca Juga:  Sebanyak 89% Perusahaan di Indonesia Tidak Siap Hadapi Ancaman Keamanan Siber

“Kita punya kompleksitas risiko, kita punya laboratorium alam terbesar, kita punya kebutuhan riil yang tidak pernah bisa ditunda, dan dalam dunia inovasi, kebutuhan yang mendesak adalah bahan bakar paling kuat bagi lahirnya teknologi,” tuturnya.

Wamen Bappenas meyakini bahwa apabila para pemangku kepentingan mampu mengelola ini semuanya dengan benar, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang tangguh terhadap bencana.

“Kita juga bisa menjadi pusat produksi pengembangan dan ekspor teknologi kebencanaan dunia,” ungkapnya.

Menurut Febrian, pemerintah juga harus hadir dan berperan penting untuk mendukung terciptanya ekosistem dan hilirisasi kemandirian inovasi teknologi dan industrialisasi kebencanaan, sedangkan dalam konteks perencanaan pembangunan nasional, hal tersebut bukan hanya isu sektoral.

“Ini adalah bagian dari transformasi besar menuju Indonesia emas 2045. Kebencanaan harus menjadi inti dari pembangunan bukan sekedar respons darurat tetapi juga terintegrasi dalam perencanaan Pembangunan nasional di tingkat pusat sampai ke daerah, inovasi harus menjadi mesin industri, dan negara harus hadir secara nyata untuk membentuk ekosistem,” tuturnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati menyampaikan industrialisasi dan hilirisasi merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Melalui diskusi dan langkah konkret pada topik tersebut, dia berharap, Indonesia yang rawan bencana tidak lagi menjadi wilayah yang berisiko tapi menjadi pusat inovasi.

“Kita harus mampu memiliki kemandirian inovasi teknologi kebencanaan,” jelasnya.

Selain itu, Deputi Raditya juga mengharapkan adanya kemandirian tersebut ke depan Indonesia mampu untuk mendukung kebutuhan kesiapsiagaan sehingga masyarakat siap menghadapi setiap ancaman bahaya atau pun bencana.

Direktur Operasional ADEXCO Andrian Cader mengungkapkan seminar ini telah mempertemukan pemerintah, industri dan inovator, baik lokal maupun internasional.

Baca Juga:  Kemandirian dalam Teknologi dan Inovasi di Industri Kebencanaan Indonesia

Menurutnya, inovasi teknologi dan industrialisasi membutuhkan ekosistem terintegrasi yang melibatkan para pemangku tersebut.

Andrian mengatakan, perlu adanya dorongan terhadap tiga hal besar, yaitu arah kebijakan dan industri.

“riset harus menjawab kebutuhan industri, Industri harus terhubung sejak awal mulai proses inovasi,” ujarnya.

Selain itu, dia menambahkan inovasi tidak hanya berhenti pada prototipe. Inovasi ini harus dipastikan masuk ke pasar, diproduksi massal dan dimanfaatkan secara nyata.

Namun demikian, inovasi dan industrialisasi juga perlu didukung dengan pembiayaan dan investasi, sehingga dapat terus tumbuh dan berkembang. I

 

Kirim Komentar