Saat ini, Indonesia tidak lagi sekedar pasar, melainkan Indonesia sedang menjadi kekuatan industri.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Bandung, baru – baru ini.
“Indonesia kini berada di peringkat ke-12 dunia dalam Manufacturing Value Added dan tertinggi di ASEAN, dengan nilai sekitar US$275,61 miliar,” katanya dihadapan mahasiswa baru Universitas Bandung.
Nilai tambah manufaktur (Manufacturing Value Added/MVA) Indonesia tetap menjadi yang tertinggi di kawasan ASEAN dengan kisaran nilai melampaui US$275 miliar, dengan didukung oleh pertumbuhan positif industri pengolahan nonmigas pada paruh pertama tahun 2026.
Indonesia memimpin peringkat MVA tertinggi di ASEAN, jauh mengungguli negara Tailan dan Vietnam.
Berdasarkan rencana strategis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), ekspor produk industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 74,85% pada tahun 2026, dengan penyerapan tenaga kerja sektor industri sebesar 14,68% secara nasional.
Mengenai kinerja sektor pada Kuartal II/2026, Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) mencatat pertumbuhan positif yang mampu melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Mengenai dinamika Purchasing Managers’ Index (PMI/Indeks Manajer Pembelian) Manufaktur, sempat kembali masuk zona ekspansi ke level 50,0 pada Mei 2026, atau PMI Manufaktur Indonesia tercatat berada di level kontraksi 49,8 pada Agustus 2026 akibat tekanan biaya dan permintaan yang lesu.
Mengenai periode Triwulan II/2026, Wamenperin Riza menambahkan, terdata industri pengolahan nonmigas dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp1.102,88 triliun, dengan menyerap sebanyak 19,9 juta tenaga kerja dan menyumbang 82,18% ekspor, serta hampir 39% dari nilai investasi nasional.
“Pada tahun 2025, sektor industri tumbuh sebesar 5,30% atau lebih tinggi dari ekonomi nasional yang tumbuh 5,11%,” tuturnya.
Menurut Wamenperin Riza, angka tersebut menandai Fase Industrialisasi Indonesia, tetapi industri bergerak cepat, yakni Artificial Intelligence (AI), robotika, informasi dan data mengubah dunia kerja.
“Pesannya jelas, yang terancam bukan manusia, tapi cara kerja lama dan Indonesia membutuhkan talenta baru, seperti AI engineer, data scientist, robotik engineer dan automation specialist,” ungkapnya.
Kepada mahasiswa, Wamenperin Riza mengajak untuk menjadi pencipta teknologi, pencipta nilai dan pemimpin perubahan.
“AI bisa menghasilkan jawaban, tapi manusia tetap menentukan arah. Tahun 2045 bukan sekedar target, talenta Indonesia harus menjadi penggerak masa depan industri nasional,” ujarnya. I







