Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) Kementerian Perhubungan bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) memperkuat kerja sama peningkatan transportasi publik di kawasan Jabodetabek melalui penandatanganan Record of Discussions (R/D) untuk Project for Improvement of Public Transportation in Jakarta Metropolitan Area di Kantor Ditjen Intram, Jakarta.
Kerja sama teknis selama 36 bulan ini diarahkan untuk memperkuat perencanaan dan integrasi transportasi publik, sekaligus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
R/D merupakan dokumen kesepakatan yang menjadi dasar pelaksanaan kerja sama teknis antara Pemerintah Indonesia dan JICA.
Melalui proyek ini, kedua pihak akan bekerja sama dalam meningkatkan kapasitas perencanaan transportasi pengumpan (feeder) dan simpul transportasi antarmoda, serta penyiapan model bisnis dan skema pendanaan yang mendukung keberlanjutan transportasi publik.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Risal Wasal mengatakan, kerja sama tersebut merupakan langkah konkret untuk mewujudkan sistem transportasi publik yang terintegrasi, aman, andal, inklusif dan berkelanjutan.
“Kawasan Metropolitan Jakarta merupakan pusat pertumbuhan ekonomi nasional dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kita perlu memperkuat integrasi transportasi publik agar masyarakat semakin mudah dan nyaman menggunakan transportasi umum,” jelasnya.
Risal menambahkan, proyek kerja sama tersebut memiliki tiga keluaran utama. Pertama, peningkatan kapasitas perencanaan transportasi pengumpan (feeder), antara lain melalui penyusunan rencana layanan feeder beserta buku panduan operasional.
Kedua, perencanaan simpul transportasi antarmoda (intermodal transport hub) yang responsif gender beserta pedoman teknisnya.
Ketiga, penyusunan model bisnis dan skema pendanaan, termasuk pembagian peran antarpemangku kepentingan, kerangka pembiayaan, serta rekomendasi kebijakan.
Sebagai bagian dari implementasi proyek, akan dilakukan pilot study di wilayah kandidat yang direncanakan meliputi Kota/Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang Selatan, dan/atau Kabupaten Tangerang.
Pilot study ini akan digunakan untuk menguji dan memvalidasi metodologi perencanaan sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Penyusunan R/D merupakan hasil pembahasan lanjutan setelah pelaksanaan Detailed Planning Survey dan penandatanganan Minutes of Meeting (MoM) pada Desember 2025.
Dokumen tersebut juga telah melalui proses penelaahan teknis dan hukum bersama instansi terkait.
Dalam pelaksanaannya, Ditjen Intram akan memimpin dan mengoordinasikan proyek bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, pemerintah daerah se-Jabodetabek, serta para operator transportasi publik melalui Joint Coordinating Committee (JCC).
Risal menegaskan bahwa pengembangan transportasi publik tidak hanya berorientasi pada konektivitas antarmoda, tetapi juga harus memperhatikan aspek inklusivitas dan keberlanjutan.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap desain integrasi transportasi memperhatikan kesetaraan gender, kebutuhan kelompok rentan dan efisiensi layanan yang dapat berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca,” tuturnya.
Sementara itu, Chief Representative JICA Indonesia Office Takeda Sachiko menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Intram, atas komitmen dalam meningkatkan kualitas transportasi publik di kawasan Metropolitan Jakarta.
Dia mengatakan, transportasi memiliki peran strategis yang tidak hanya berkaitan dengan mobilitas masyarakat, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.
“Transportasi tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan mengatasi kemacetan di Jakarta serta wilayah sekitarnya,” ungkap Takeda.
Menurutnya, peningkatan kualitas transportasi publik dapat mendorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Peralihan tersebut, dia menambahkan, diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk mengurangi kemacetan dan emisi gas rumah kaca.
“Sistem transportasi publik yang lebih baik akan mendorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Pada akhirnya, hal ini dapat membantu mengurangi kemacetan, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca,” jelasnya.
Takeda juga menyampaikan komitmen JICA untuk terus mendukung Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan di kawasan Jabodetabek.
Risal menyampaikan apresiasi kepada JICA atas dukungan dan kemitraan yang terus terjalin dalam pengembangan transportasi perkotaan di Indonesia.
“Kami percaya kolaborasi ini akan memperkuat integrasi antarmoda dan menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem mobilitas perkotaan Jabodetabek yang lebih efektif, inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Perhubungan pemerintah daerah se-Jabodetabek.
Keterlibatan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek, mengingat integrasi transportasi publik di kawasan metropolitan membutuhkan koordinasi dan sinergi lintas wilayah. I
