Kabandara Juwata Agus Priyanto
Kabandara Juwata Agus Priyanto
Bagikan Artikel

Tiga puluh dua tahun mengabdi untuk Indonesia, waktu Agus Priyanto berjalan demikian cepat. Lulusan dari Akademi TNI Angkatn Udara pada 1988, anak ke 5 dari 5 kelahiran Surabaya 5 September 1964 ini mengabdi di lingkungan militer.

Tetapi ayah tiga anak dari suami Suartini,SH tidak selamanya di lingkungan TNI, Ketika ada perintah mengabdi di komunitas sipil, persisnya menjadi Kepala Otoritas Bandara X Merauke di provinsi Papua, Agus menjalankan dengan penuh pengabdian.

Usai di Merauke, Agus ditempatkan memimpin Bandara Sentani Jayapura dan selanjutnya kembali menjadi Kaotban V di Makassar. Sejak satu tahun lalu, dipercaya menjadi Kepala Bandara Juwata Tarakan di Kalimantan Utara.

Apa kunci sukses Agus Priyanto?

Selama menjalankan tugas, penggemar olah raga selalu memotivasi diri untuk dapat memberikan buah karya dan kemampuan terbaik dengan menjadi pribadi yang disiplin dalam melakukan tugas dan bertanggung jawab dalam setiap pekerjaan.

Bagi Agus, bekerja adalah kewajiban dan merupakan ibadah. Karena merasa kerja adalah ibadah, Agus selalu melakukannya dengan baik, disiplin dan penuh tanggung jawab.

“Karena kerja adalah ibadah, jika tidak maksimal yang akan membuat ketidaknyamanan dalam diri saya sendiri. Melakukan setiap pekerjaan dengan baik dan disiplin diri itu sangat penting bagi saya.”

Agus Priyanto bersama pilot 1 - Kabandara Juwata Agus Priyanto; Motivasi Diri & Disiplin
Agus Priyanto bersama pilot

Dengan kerja baik, kata Agus, keberhasilan dan kesuksesan akan mengiringi. Penggemar olahraga sangat yakin sukses bukanlah kebetulan, itu adalah kerja keras, kedisiplinan, pengorbanan dan yang paling penting adalah mencintai apa yang dikerjakan dengan tulus.

Setiap orang memiliki tujuan hidup bagi personal diri, dimana tujuan personal ini adalah ukuran bagi pribadi untuk melakukan sesuatu dan menjadi idealisme dalam menjalani hldup.

“Dalam perjalanan karir saya, Keluarga yang selalu menjadi tujuan saya, terutama lstri dan anak-anak saya. Karena bagi saya, Keluarga adalah harta yang paling berharga, Mutiara dan istana yang paling indah. Teruslah berjuang, entah untuk diri sendiri atau keluarga. lalu ubahlah semua hinaan menjadi tepuk tangan,” kata Agus. I


Bagikan Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here