Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla Kemenhub) melalui Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan siber di sektor transportasi laut nasional.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui peluncuran Indonesia Maritime Transportation Cybersecurity Playbook dan pelaksanaan Table-top Exercise yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, bertempat di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Kegiatan peluncuran ini dihadiri langsung oleh Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia Fiona Ritchie, Tim ISF Indo Pacific Cyber Programme, pakar siber dari University of Plymouth, dan perwakilan dari Kemenkopolkam, serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal (Plt Dirjen) Perhubungan Laut Lollan Panjaitan, yang dalam hal ini diwakili oleh Direktur Kenavigasian Hernadi Tri Cahyanto menjelaskan bahwa transformasi digital di sektor transportasi laut telah memberikan efisiensi yang luar biasa, tetapi di saat yang sama membawa tantangan dan risiko serangan siber.
“Transformasi digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasional transportasi laut, mulai dari sistem navigasi, manajemen pelabuhan, logistik hingga pertukaran data. Namun, ketergantungan yang tinggi pada teknologi digital ini juga meningkatkan risiko dan ancaman keamanan siber,” ungkapnya.
Hernadi menekankan bahwa serangan siber di sektor maritim tidak lagi sekadar gangguan sistem informasi, melainkan berpotensi mengganggu kelancaran rantai logistik, keselamatan pelayaran, hingga perekonomian nasional.
Oleh karena itu, dia menambahkan, keamanan siber kini dipandang sebagai elemen vital dari keselamatan dan ketahanan transportasi laut nasional.
“Penyusunan dan peluncuran Indonesia Maritime Transportation Cybersecurity Playbook merupakan langkah strategis yang menjadi acuan bersama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapan, merespons, serta melindungi data dan informasi dari berbagai ancaman siber,” tuturnya.
Lebih lanjut, Hernadi menambahkan bahwa keberadaan Playbook ini harus diimbangi dengan pemahaman dan simulasi yang memadai.
Pelaksanaan Table-top Exercise yang digelar sebagai rangkaian acara ini menjadi sarana penting untuk menguji kesiapan dan prosedur penanganan insiden siber secara nyata.
“Table-top Exercise ini bukan sekadar simulasi, tetapi kesempatan untuk menguji prosedur, mekanisme komunikasi dan pengambilan keputusan ketika menghadapi insiden siber. Melalui latihan ini, kita dapat mengidentifikasi potensi kesenjangan dan memperjelas peran, serta tanggung jawab masing – masing pihak agar koordinasi lintas sektor semakin solid,” ungkap Hernadi.
Dia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih dari Menteri Perhubungan kepada Pemerintah Inggris, Kedutaan Besar Inggris di Jakarta dan University of Plymouth atas kemitraan dan kontribusi dalam mendukung ketahanan siber maritim di Indonesia.
“Atas nama Menteri Perhubungan Republik Indonesia, kami menyampaikan apresiasi tertinggi kepada Pemerintah Inggris, khususnya Ibu Fiona Ritchie dan tim dari Kedutaan Besar Inggris, serta para instruktur dari University of Plymouth,” ujar Hernadi.
Dia berharap kegiatan ini menjadi milestone strategis dalam memperkuat ketahanan siber sektor transportasi laut Indonesia, sekaligus mempererat hubungan kedua negara dalam bingkai kerja sama konstruktif di International Maritime Organization (IMO).
Melalui sinergi antara regulator, operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, penyedia teknologi, dan akademisi, Ditjen Hubla optimistis percepatan transformasi digital di sektor transportasi laut dapat terus berjalan aman, andal, serta memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan perekonomian nasional. I





