Menjelang Sidang Majelis Luar Biasa International Civil Aviation Organization (ICAO) ke-43 yang berlangsung pada 19 – 20 November 2026 di Montreal, Kanada, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memperkuat kolaborasi dan langkah.
Upaya tersebut dimaksudkan untuk diplomasi menggalang dukungan internasional bagi pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO Kategori III, yang dilakukan melalui rapat koordinasi yang diselenggarakan di Kantor Pusat Kemenhub, Jakarta.
Pada kesempatan ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, sebelumnya Indonesia pernah menduduki kursi Dewan ICAO selama 12 periode berturut-turut, yakni pada 1962 – 2001.
Kini, jumlah anggota Dewan ICAO bertambah dari 36 menjadi 40 negara. Dengan begitu, peluang Indonesia untuk kembali berkontribusi pada tingkat global terbuka.
“Pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO merupakan momentum penting bagi Indonesia untuk kembali berperan dalam pengambilan keputusan strategis pada bidang penerbangan sipil internasional,” jelas Menhub.
Guna mewujudkan hal tersebut, dia menambahkan, telah dilakukan berbagai upaya diplomasi, baik melalui forum internasional, pertemuan bilateral dan komunikasi langsung dengan sejumlah negara ICAO.
Dalam upaya – upaya tersebut, Indonesia memiliki empat pesan utama yang disampaikan.
Pertama, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, sekaligus salah satu pangsa pasar penerbangan besar di kawasan Asia Pasifik.
Dengan karakteristik tersebut, Indonesia memiliki perspektif dan pengalaman penting dalam pengembangan penerbangan sipil internasional.
Kedua, Indonesia memiliki komitmen dan rekam jejak yang kuat dalam ICAO. Komitmen ini telah diwujudkan melalui berbagai pekerjaan teknis, program peningkatan kapasitas, serta partisipasi aktif dalam berbagai inisiatif penerbangan tingkat regional maupun global.
Ketiga, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan penghubung antarkawasan, antarnegara maju dan berkembang dan antarberbagai pemangku kepentingan penerbangan yang memiliki kepentingan, serta latar belakang berbeda.
Keempat, Indonesia telah dan siap melanjutkan kontribusi dalam mendukung pelaksanaan berbagai prioritas strategis ICAO.
Atas hal – hal tersebut, Indonesia pun telah menerima sejumlah dukungan tertulis dan indikasi dukungan secara lisan.
Hingga 5 November 2026, Indonesia telah memperoleh dukungan tertulis dari 28 negara dan indikasi dukungan lisan dari 68 negara.
Capaian tersebut menjadi modal penting untuk terus memperkuat upaya diplomasi menjelang pemilihan anggota Dewan ICAO.
Menhub juga menekankan pentingnya mengoptimalkan pemanfaatan Aide Memoire, yaitu dokumen diplomatik yang memuat informasi dan poin – poin utama pencalonan Indonesia, sebagai bahan komunikasi kepada negara – negara sahabat guna memperkuat dukungan terhadap pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO.
“Perkembangan ini tentunya patut kita apresiasi. Namun, waktu menuju pemilihan semakin dekat. Oleh karena itu, upaya diplomasi kiranya dapat terus kita tingkatkan bersama, baik intensitas maupun efektivitasnya agar seluruh potensi dukungan benar – benar dapat diwujudkan dan menjadi dukungan yang nyata bagi Indonesia,” tuturnya.
Melalui sinergi Kemenhub, Kemenlu dan seluruh Perwakilan Indonesia di luar negeri, pemerintah berharap dapat mengoptimalkan dukungan internasional sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam mewujudkan penerbangan sipil global yang selamat, aman dan berkelanjutan.
Turut hadir secara luring pada kegiatan tersebut Sekretaris Jenderal Kemenhub Arif Toha, Sekretaris Jenderal Kemenlu Denny Abdi, Pejabat Pimpinan Madya dan Tinggi Pratama Kemenhub juga Kemenlu, serta pimpinan instansi BUMN dan mitra kerja Kemenhub, sedangkan secara daring turut hadir para Duta Besar Republik Indonesia. I







