Kemenperin Dorong Pengembangan Teknologi Baru Jaga Daya Saing Industri Kendaraan Niaga Nasional

Industri kendaraan niaga saat ini menghadapi kompetisi yang semakin tinggi, perubahan teknologi yang cepat dan pergeseran selera pasar.

Maka dari itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza melakukan pembahasan hal tersebut saat menerima courtesy visit dari Archion dan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI).

Archion adalah perusahaan induk baru hasil integrasi bisnis antara Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation dan Hino Motors, Ltd.

“Saya melakukan pertemuan dengan Archion dan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) untuk membahas perkembangan industri kendaraan niaga nasional, termasuk kesiapan Hino menghadapi B50, penyesuaian teknologi, serta mitigasi risikonya,” katanya di Jakarta.

Wamenperin Riza menjelaskan bahwa Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penguatan pemasok lokal, investasi dan pengembangan teknologi baru untuk menjaga daya saing industri kendaraan niaga nasional.

HMMI memiliki kapasitas produksi 75.000 unit per tahun, dengan jumlah tenaga kerja 1.673 orang, didukung 195 pemasok lokal dan telah memproduksi 46 model kendaraan.

Sebanyak 31 model di HMMI telah memperoleh sertifikasi TKDN, dengan capaian hingga 71,75% dan sejak tahun 2022 telah mengembangkan teknologi hidrogen.

“Kami juga membahas peluang pengembangan kendaraan listrik dan hybrid di Indonesia pada pertemuan tersebut, meski masih terdapat tantangan pada infrastruktur charger dan kapasitas baterai,” jelas Wamenperin Riza.

Dia menuturkan bahwa pengembangan teknologi perlu berjalan seiring dengan kesiapan industri dan kebutuhan pasar, sehingga Indonesia dapat terus memperkuat posisinya dalam rantai industri kendaraan niaga global.

“Peluang pengembangan kendaraan listrik dan hybrid di Indonesia turut menjadi perhatian, meskipun masih terdapat sejumlah tantangan, terutama terkait kesiapan infrastruktur pengisian daya dan kapasitas baterai,” ungkap Wamenperin Riza.

Baca Juga:  Kemenpar Dorong Perizinan Pariwisata Lebih Mudah

Bagi industri, lanjutnya, perubahan teknologi bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari kebutuhan untuk tetap relevan menghadapi masa depan.

Oleh karena itu, dia menambahkan, transformasi teknologi harus berjalan dengan mempertimbangkan kesiapan ekosistem industri, kemampuan pemasok lokal, infrastruktur dan kebutuhan pasar Indonesia.

“Kita ingin Indonesia bukan hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi basis produksi dan pengembangan teknologi kendaraan niaga yang semakin kuat,” tegas Wamenperin Riza.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, industri, pemasok lokal dan pengembang teknologi, dia menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk terus memperkuat posisinya dalam rantai industri kendaraan niaga global.

Kemenperin mencatat penerbitan tanda pendaftaran tipe untuk 15.850 unit kendaraan niaga impor pada Januari – Juni 2026, bahkan menyiapkan harmonisasi kebijakan fiskal dan nonfiskal untuk melindungi industri lokal dan menjaga daya saing.

Mengenai proyeksi otomotif nasional, penjualan mobil secara nasional pada tahun 2026 ditargetkan mencapai 850.000 unit dengan peluang mendekati 1 juta unit.

Secara keseluruhan, Kemenperin optimistis penjualan kendaraan bermotor nasional pada tahun 2026 dapat melampaui target 850.000 unit.

Keyakinan tersebut didorong oleh pertumbuhan produksi dan penjualan otomotif pada Semester I/2026 yang menunjukkan tren positif.

Produksi kendaraan bermotor nasional pada Semester I/2026 mencapai 615.000 unit atau tumbuh 11,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, penjualan secara wholesales meningkat 15,9% menjadi 436.000 unit, tetapi target tersebut bukan batas pertumbuhan industri otomotif nasional.

“Pasar otomotif Indonesia masih memiliki ruang ekspansi yang sangat besar karena tingkat kepemilikan mobil masih jauh di bawah negara – negara tetangga,” ungkap Wamenperin Riza. I

 

 

 

 

 

Kirim Komentar