Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan kedelai di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah melalui kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, pengembangan ini ditargetkan mencapai 5.000 hektare apabila didukung kesiapan pelaksanaan, dengan harapan produktivitas kedelai dapat mencapai lebih dari 3 ton per hektare.
Kunjungan Mentan Amran ke Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM di Yogyakarta ini merupakan tindak lanjut pertemuannya dengan Rektor UGM di Jakarta pada Juni 2026.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi dalam mengembangkan kedelai, mulai dari riset, pengujian produktivitas hingga perluasan areal tanam bersama petani.
“Alhamdulillah, hari ini sudah membuahkan hasil, di mana produksi kedelai bisa minimal 2,6 ton sampai 3,2 ton, tapi kami minta bila perlu di atas 3 ton,” ujar Mentan saat meninjau pengembangan kedelai di PIAT UGM.
Dia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperluas pengembangan kedelai.
Kementan dan UGM telah menyepakati rencana pengembangan pada lahan seluas 2.000 hektare pada tahun 2027.
Jika produktivitas dan kesiapan pelaksanaan memungkinkan, lanjutnya, pemerintah membuka peluang perluasan hingga 5.000 hektare, dengan 3.000 hektare tambahan melibatkan masyarakat dan kelompok petani di bawah pengawasan UGM.
“Tahun depan kami sudah tanda tangan kesepakatan dengan UGM, 2.000 hektare. Tapi kalau mampu 5.000, kami siapkan anggarannya,” jelas Mentan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kedelai, Kementan telah menyerahkan dukungan anggaran sebesar Rp7,7 miliar untuk tahun 2026.
Mentan Amran menuturkan bahwa dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mengawal pengembangan kedelai bersama perguruan tinggi, sekaligus mendorong hasil riset dan inovasi agar dapat diterapkan dalam skala budi daya yang lebih luas.
“Kami apresiasi teman – teman UGM atas kerja kerasnya. Ini sesuai komitmen pembicaraan kita saat pertemuan di Jakarta. Kami akan lanjutkan terus dan insyaallah akan kami kawal, karena ini perintah Bapak Presiden,” ungkapnya.
Dekan Fakultas Pertanian UGM Prof. Subejo menambahkan bahwa potensi hasil varietas kedelai yang dikembangkan dapat mencapai 3,6 ton per hektare.
Tim UGM menargetkan produktivitas di atas 3 ton per hektare, dengan hasil actual akan ditentukan oleh perkembangan tanaman hingga panen serta kesesuaian teknik budi daya dengan kondisi lahan.
Dalam peninjauan tersebut, tanaman kedelai yang diamati belum memasuki masa panen. Tanaman ditanam pada 30 Agustus 2026 dan berusia sekitar 44 hari saat kunjungan berlangsung, sehingga potensi produktivitas masih akan diuji hingga panen.
Pengaturan jarak tanam menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan tersebut.
Prof. Subejo menjelaskan penggunaan jarak tanam 20 sentimeter x 40 sentimeter pada lahan yang diamati, dengan penyesuaian teknik budi daya berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman, maka diharapkan dapat mendukung pencapaian produktivitas yang optimal.
Menurutnya, pengembangan berikutnya direncanakan melibatkan kelompok tani di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah dengan target produktivitas lebih dari 3 ton per hektare.
“Keterlibatan petani menjadi langkah penting untuk menguji penerapan teknologi budi daya dalam skala lapangan sekaligus mempersiapkan perluasan areal tanam,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga meninjau stand PIAT UGM yang menampilkan benih kedelai bersertifikat, dengan memiliki daya tumbuh hampir 99% berdasarkan pengujian yang dilakukan.
Kerja sama Kementan dan UGM diharapkan memperkuat pengembangan benih bermutu, penerapan teknologi budi daya dan perluasan areal tanam kedelai.
Melalui dukungan riset perguruan tinggi dan keterlibatan petani, pengembangan ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, serta memperkuat produksi kedelai nasional. I







