Kementan Perkuat Hilirisasi untuk Swasembada Gula Nasional

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan terus memperkuat upaya percepatan swasembada gula nasional melalui Gerakan Tanam Serentak Tebu yang digelar di Desa Salit, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Kegiatan yang mengusung tema Wujudkan Percepatan Hilirisasi Komoditas Perkebunan tersebut menjadi langkah konkret dalam meningkatkan produktivitas tebu nasional, sekaligus mendorong pengembangan industri hilir berbasis komoditas perkebunan yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani.

Penguatan hilirisasi tebu menjadi bagian penting dalam membangun swasembada pangan yang berkelanjutan.

Pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi gula nasional, tetapi juga memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar melalui penguatan industri pengolahan, kepastian penyerapan hasil panen, serta perluasan akses pasar.

Dengan demikian, petani memiliki insentif yang kuat untuk terus meningkatkan produksi dan menjaga keberlanjutan usaha taninya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Triwidarto, jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), General Manager PG Sragi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perkebunan Kabupaten Pekalongan Yudhi Himawan, unsur Forkopimcam, pemerintah desa, serta kelompok tani setempat.

Kepala DKPP Kabupaten Pekalongan Yudhi Himawan mengatakan, gerakan tanam serentak merupakan bagian dari strategi pengembangan perkebunan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, Kabupaten Pekalongan memperoleh target pengembangan tebu seluas 234 hektare pada tahun 2026.

“Hingga saat ini realisasi tanam telah mencapai 135 hektare. Kami optimistis target tersebut dapat tercapai dengan dukungan seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat, pabrik gula dan petani,” jelas Yudhi.

Dia menambahkan, peningkatan luas tanam tebu diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi gula, sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui penguatan kemitraan dengan industri pengolahan.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Perkebunan Heru Triwidarto menegaskan bahwa pengembangan tebu menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam mendukung swasembada gula nasional.

Baca Juga:  Produksi Gula Tahun 2025 Capai 2,67 Juta Ton

“Hilirisasi merupakan kunci peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan. Oleh karena itu, pengembangan tebu harus didukung oleh penguatan industri pengolahan agar manfaat ekonominya semakin besar dan dirasakan langsung oleh petani,” katanya.

Dia mengatakan, target pengembangan tebu di Provinsi Jawa Tengah pada 2026 mencapai 10.800 hektare.

Hingga saat ini realisasi penanaman telah mencapai sekitar 80 persen atau sekitar 8.800 hektare.

“Masih terdapat sekitar 2.000 hektare yang akan terus dikejar hingga akhir tahun. Kami optimistis target tersebut dapat tercapai melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, industri gula dan petani,” tutur Heru.

Secara nasional, lanjutnya, pemerintah menargetkan pengembangan areal tebu sekitar 97.000 hektare pada tahun 2026.

Hingga awal Juni 2026, realisasi telah mencapai sekitar 62% dan akan terus dipercepat untuk memenuhi target produksi gula nasional.

Percepatan pengembangan tebu dan penguatan hilirisasi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Selain meningkatkan produksi, pemerintah mendorong terciptanya ekosistem usaha yang mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani, sehingga kegiatan budidaya tetap menarik dan menguntungkan untuk dijalankan dalam jangka panjang.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa percepatan tanam tebu menjadi bagian penting dalam mewujudkan swasembada pangan dan swasembada gula sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Presiden memberikan perhatian besar terhadap penguatan ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, seluruh jajaran Kementerian Pertanian terus bergerak mempercepat peningkatan produksi komoditas strategis, termasuk gula, melalui perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, serta penguatan kemitraan dengan petani dan industri,” ungkapnya.

Menurut Mentan, pemerintah berkomitmen memberikan dukungan penuh kepada petani melalui penyediaan benih unggul, mekanisasi, pembiayaan hingga penguatan hilirisasi agar hasil produksi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Baca Juga:  Bulog Pastikan Keterjangkauan Bantuan Beras dan Minyak Goreng bagi KPM

“Petani harus menjadi pelaku utama yang menikmati manfaat pembangunan pertanian. Karena itu, seluruh program yang dijalankan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” tuturnya.

Kegiatan Gerakan Tanam Serentak ditutup dengan penanaman bibit tebu secara simbolis oleh para tamu undangan bersama kelompok tani.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN dan petani dalam memperkuat sektor perkebunan nasional yang modern, berdaya saing, serta berkelanjutan.

Melalui percepatan tanam dan penguatan hilirisasi komoditas perkebunan, pemerintah optimistis target swasembada gula nasional dapat tercapai, sekaligus memperkuat fondasi swasembada pangan Indonesia yang berkelanjutan.

Hilirisasi tidak hanya mendorong peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menjaga kesejahteraan petani dan memastikan produksi pangan nasional terus tumbuh secara berkelanjutan. I

Kirim Komentar