Kementerian Pertanian (Kementan) bersama dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan bersinergi mengawal distribusi jagung guna menjamin ketersediaan dan melindungi peternak dari gejolak harga pakan.
Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, Kementan berkolaborasi erat dengan Satgas Pangan untuk mengawal distribusi dan memastikan tidak ada penimbunan jagung oleh oknum – oknum pengepul atau pedagang.
Dia menuturkan, ketersediaan jagung untuk pakan ternak kembali jadi perhatian pemerintah, bahkan dalam sebulan terakhir, harga jagung di sejumlah sentra produksi cenderung meningkat dan berpotensi membebani peternak unggas.
Menyikapi hal tersebut, Kementan bergerak cepat dengan koordinasi lintas kementerian/lembaga termasuk bersama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan.
Agung memastikan sejumlah langkah antisipatif sudah disiapkan, mulai dari imbauan kepada industri pakan agar tidak menaikkan harga, pemetaan peternak calon penerima cadangan jagung pemerintah, hingga mempertemukan kelompok tani dengan pemasok jagung.
“Langkah – langkah ini kami ambil untuk memastikan pasokan jagung dan pakan tetap stabil. Tujuannya jelas agar peternak tidak terbebani biaya tinggi dan masyarakat tetap dapat mengakses pangan asal unggas dengan harga terjangkau,” ungkapnya.
Dia menegaskan bahwa koordinasi intensif terus berjalan dengan pemerintah daerah, asosiasi hingga pelaku usaha.
Menurutnya, kunci penyelesaian persoalan ini adalah kebersamaan seluruh pihak dengan menekankan kepada semua pihak untuk kompak dan berkomitmen, masalah dapat diselesaikan, karena swasembada pangan menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang harus didukung bersama.
“Mohon kerja sama dari semua, baik petani, pengepul, pedagang jagung, feedmill maupun peternak layer,” tegasnya.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Ditjen PKH Kementan Yudi Sastro memastikan bahwa secara nasional ketersediaan jagung aman.
Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Jagung Badan Pusat Statistik total luas panen jagung Januari – September 2025 sebesar 2,11 juta hektare dengan produksi Jagung Pipilan Kering (JPK) kadar air 14% mencapai 12,13 juta ton.
Potensi luas panen Juli – September 2025 diperkirakan mencapai 0,61 juta hektare dengan potensi produksi JPK KA 14% sekitar 3,60 juta ton.
Yudi menambahkan, neraca jagung nasional tahun 2025 menunjukkan kondisi surplus.
Berdasarkan proyeksi neraca jagung nasional tahun 2024, total ketersediaan jagung tahun 2025 mencapai 19,55 juta ton, sedangkan kebutuhan sebesar 14,95 juta ton. “Artinya, tahun ini kita berpotensi surplus sekitar 4,6 juta ton.” I