Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) 2 di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Sidak ini dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur pendidikan yang ditargetkan dapat digunakan saat dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026 – 2027.
Pekerja bangunan SR juga berjanji untuk mati – matian menyelesaikan pembangunan sesuai target.
Maka dari itu, Menteri PU menyoroti keberhasilan proyek SR Sukoharjo yang kini telah masuk ke dalam zona hijau atau sesuai target perencanaan, padahal proyek ini sempat terhambat akibat kerusakan jalan desa yang dilalui kendaraan berat proyek.
“Hampir di semua tempat yang menggunakan akses publik selalu menemui kendala serupa. Jalan desa atau kabupaten biasanya bukan jalan yang layak dilewati alat berat,” jelasnya.
Oleh karena itu, dia menambahkan, para penyedia jasa (kontraktor) memang harus mengeluarkan upaya ekstra, semacam Corporate Social Responsibility (CSR), untuk menyiapkan atau memperbaiki jalan kerjanya terlebih dahulu.
Dody mencontohkan, kendala serupa juga terjadi di Brebes, di mana pihak pelaksana sampai harus membangun jembatan bailey sementara. “Hal itu agar distribusi logistik tidak mengganggu aktivitas warga setempat.”
Menurutnya, secara rata – rata nasional, progres pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia telah menyentuh angka 78%.
Fokus utama Kementerian PU saat ini adalah memastikan gedung – gedung utama, yakni tingkat SD, SMP dan SMA, bisa fungsional untuk digunakan pada pertengahan Juli 2026.
Khusus untuk pekerjaan di Sukoharjo, Menteri PU menargetkan kesiapan fisik bisa mencapai lebih dari 90% saat target waktu tersebut tiba.
“Kita tetap optimistis. Minimum gedung SD, SMP dan SMA bisa kita selesaikan dulu agar adik – adik bisa masuk ke sekolah yang baru di tahun ajaran baru pada Juli nanti. Kalaupun ada beberapa tempat yang belum 100% tuntas, minimal harus sudah fungsional,” tuturnya.
Menariknya, dalam inspeksi tersebut Menteri PU memiliki cara tersendiri untuk cek kualitas dan progres proyek, yakni tidak hanya hanya melihat fasad bangunan dari depan, tapi memilih langsung cek area belakang proyek.
“Makanya, saya tadi langsung ke belakang. Saya biasanya melihat bagian paling akhir untuk cek di mana letak masalahnya. Kalau di depan kan tidak kelihatan, di belakang baru ketahuan kondisinya seperti apa,” jelas Dody.
Dalam peninjauannya, dia juga memetakan perbedaan tantangan pembangunan SR di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, dengan di Kabupaten Sukoharjo dan wilayah Jawa lainnya, tantangan terbesar saat ini berada pada Fase Arsitektural dan Finishing.
“Fase ini membutuhkan waktu paling lama, karena sangat bergantung pada detail dan ketersediaan tenaga kerja terampil,” tegasnya.
Sementara itu, untuk proyek SR di luar Jawa, seperti Sumatera, Maluku dan Sulawesi, kendala utamanya adalah infrastruktur logistik.
“Masalahnya ada pada akses jalan logistik dari pelabuhan atau bandara terdekat sampai ke titik lokasi Sekolah Rakyat. Setiap tempat punya masalah sendiri dan satu per satu kita cari solusinya agar akhir Juni ini benar – benar bisa selesai,” ujarnya.
Pembangunan masif Sekolah Rakyat ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, karena ini adalah amanat langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem di Indonesia melalui jalur pendidikan.
Sekolah Rakyat dirancang dengan sistem Boarding School (sekolah berasrama) yang diperuntukkan bagi keluarga prasejahtera.
“Sesuai arahan Pak Presiden, cara paling gampang memutus kemiskinan ekstrem adalah dengan menyekolahkan putra – putri mereka. Bapak ibunya mungkin petani atau buruh, tapi anak – anaknya bisa jadi sarjana dan sukses. Semuanya gratis, asrama, baju, alat tulis, hingga laptop diberikan,” tutur Menteri PU.
Sementara itu, Project Manager Sekolah Rakyat 2 Kabupaten Sukoharjo, Mochammad Safirul Kamil mengungkapkan bahwa per 14 Juni 2026, progres fisik pembangunan telah menyentuh angka 82,46% dan optimistis sisa pengerjaan akan tuntas dalam kurun waktu kurang dari sepekan ke depan.
“Kami masih optimistis sampai dengan tanggal 20 Juni bisa selesai, dan fungsional pada tanggal 1 Juli agar adik – adik kita bisa segera melakukan kegiatan belajar mengajar di sini,” katanya.
Guna mengejar sisa target penyelesaian, manajemen proyek menerapkan langkah taktis yang masif.
Saat ini, sebanyak 800 pekerja yang terdiri dari 300 tenaga kerja lokal dan 500 pekerja non-lokal dikerahkan.
“Mereka bekerja dalam tiga sif setiap harinya, mulai dari pagi hingga pergantian hari di pukul 12 malam,” ungkap Safirul. I
