Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis target kinerja program dan penyerapan anggaran tahun 2026 dapat tercapai.
Keyakinan tersebut muncul setelah realisasi anggaran Kemenperin mencapai Rp898 miliar atau 42,57% dari total pagu Rp2,11 triliun hingga 5 Juni 2026.
“Saya menghadiri Rapat Kerja Menteri Perindustrian bersama Komisi VII DPR dalam rangka penyampaian evaluasi kinerja industri nasional dan realisasi program, serta anggaran Kementerian Perindustrian tahun 2026,” kata Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza.
Rapat ini, dia menambahkan, menjadi forum strategis untuk membahas perkembangan sektor industri nasional sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam menjaga daya saing industri di tengah dinamika perekonomian global.
Saat Rapat Kerja jajaran Kemenperin dan Komisi VII DPR tersebut disampaikan bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
Pada Triwulan I/Tahun 2026, industri pengolahan tumbuh sebesar 5,04% dan memberikan kontribusi 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Sektor ini, kata Wamenperin Riza, juga mencatat realisasi investasi sebesar Rp182 triliun atau 36,5% dari total investasi nasional, menyerap 20,4 juta tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 82% terhadap total ekspor Indonesia.
|Capaian tersebut menegaskan bahwa industri manufaktur tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja, sekaligus sumber nilai tambah nasional,” jelasnya.
Wamenperin Riza menjelaskan, rapat kerja tersebut juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi industri nasional, mulai dari ketidakpastian geopolitik, gangguan rantai pasok global hingga potensi masuknya produk impor yang dapat menekan pasar domestik.
Menyikapi hal tersebut, Kemenpern terus mendorong penguatan insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor yang lebih terukur, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan instrumen perlindungan industri untuk menjaga keberlanjutan produksi dan investasi di dalam negeri.
Kemenperin juga akan terus memperluas akses pasar global dan memperkuat diplomasi industri, termasuk melalui partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 di Rusia, bahkan menyiapkan anggaran Rp60,3 miliar untuk partisipasi Indonesia tersebut.
“Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang perdagangan, investasi dan kerja sama industri yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri global,” ungkap Wamenperin Riza.
Pada rapat kerja tersebut, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita juga mengatakan, program hilirisasi industri berbasis sumber daya alam dan pembangunan industri prioritas menjadi program dengan tingkat realisasi tertinggi, yakni hampir 35%.
“Secara umum capaian realisasi ini menunjukkan bahwa sejumlah program prioritas telah berjalan dan realisasi tertinggi pada program hilirisasi industri berbasis sumber daya alam dan pembangunan industri prioritas,” tuturnya.
Selain hilirisasi, program aglomerasi industri melalui kawasan industri mencatat realisasi 32,23%, diikuti program penguatan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) industri sebesar 23,69%, program akselerasi industri hijau hampir 22% dan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan pengembangan industri halal sebesar 16,74%.
Sementara itu, program penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai rantai pasok telah merealisasikan anggaran Rp13,48 miliar dari pagu Rp90,34 miliar atau sekitar 14,9%.
Realisasi tersebut mencakup penumbuhan wirausaha baru, penguatan sentra IKM, fasilitasi sertifikasi, kemitraan hingga perluasan akses pasar.
Adapun program peningkatan produktivitas industri melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi baru terealisasi 10,6%, sedangkan program akselerasi ekspor produk dan jasa industri masih berada di bawah 6%. I
