Laporan Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 21 Mei 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Rabu (20/05) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (21/05) pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan data yang dihimpun, kejadian hidrometeorologi basah, kekeringan, dan kebakaran hutan serta lahan menjadi atensi pemerintah daerah.

Adapun kejadian yang pertama adalah banjir di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, Selasa (19/05).

Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan debit air sungai meluap.

Wilayah terdampak meliputi Desa Tanjung Jariangau, Bawan, Kawan Batu, Tumbang Sapiri, Pahirangan dan Tanjung Batur di Kecamatan Mentaya Hulu.

Desa Baampah dan Kelurahan Baamang Tengah di Kecamatan Baamang. Desa Mentawa Baru Hilir di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, serta Desa Hanjalipan dan Kelurahan Kuala Kuayan di Kecamatan Kota Besi.

Dampak banjir tersebut dirasakan oleh 336 jiwa dari 107 Kepala Keluarga (KK) dan berdampak pada 107 unit rumah, 6 unit fasilitas ibadah, 9 unit fasilitas pendidikan, serta akses jalan desa hingga sempat mengganggu aktivitas dan mobilitas warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur melakukan asesmen, pemantauan debit air dan koordinasi dengan aparat desa setempat. Hingga Rabu (20/05), kondisi banjir dilaporkan berangsur surut.

Berikutnya, banjir melanda wilayah Provinsi Jakarta pada Selasa (19/05) setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejumlah wilayah.

Bencana ini berdampak pada 4.215 jiwa dari 1.233 KK yang tersebar di beberapa wilayah administrasi.

Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kampung Melayu dan Bidara Cina di Kecamatan Jatinegara, Kelurahan Cawang, Cililitan, Balekambang dan Condet di Kecamatan Kramat Jati, Kelurahan Cipinang Melayu di Kecamatan Makasar.

Selain itu, Kelurahan Gedong di Kecamatan Pasar Rebo, Kelurahan Pejaten Timur dan Cilandak Timur di Kecamatan Pasar Minggu, Kelurahan Rawajati dan Pengadegan di Kecamatan Pancoran, serta Kelurahan Kebon Baru di Kecamatan Tebet.

Ada juga di Kelurahan Pela Mampang dan Kuningan Barat di Kecamatan Mampang Prapatan, Kelurahan Duri Kosambi dan Rawa Buaya di Kecamatan Cengkareng, serta Kelurahan Petogogan di Kecamatan Kebayoran Baru.

Baca Juga:  BNPB Tambah Armada OMC untuk Penanganan dan Mitigasi Banjir Semarang

BPBD Provinsi Jakarta bersama unsur terkait melakukan berbagai upaya penanganan, seperti penyedotan genangan, evakuasi warga dan pemantauan wilayah terdampak. Kondisi genangan dilaporkan berangsur surut di berbagai titik.

Berikutnya di Provinsi Jawa Timur, banjir melanda Kota Pasuruan pada Selasa (19/05) akibat hujan deras dan meluapnya aliran sungai di beberapa wilayah.

Kejadian ini berdampak pada 1.102 jiwa dari 327 KK dan menyebabkan sejumlah rumah warga terdampak genangan.

Wilayah terdampak meliputi Desa Toyaning, Rejoso Lor dan Patuguran di Kecamatan Rejoso, Desa Kedawung Wetan, Sumberdawesari dan Kedawung Kulon di Kecamatan Grati, serta Desa Bandaran di Kecamatan Winongan.

BPBD Kabupaten Pasuruan melakukan asesmen dan penanganan darurat di lokasi kejadian. Kondisi mutakhir dilaporkan berangsur surut.

Sementara itu, di Provinsi Aceh, banjir terjadi di Kabupaten Bireuen pada Selasa (19/05) dan berdampak pada 786 jiwa dari 214 KK.

Wilayah terdampak meliputi Desa Alue Buya Pasie dan Pulo Lawang di Kecamatan Peudada, serta Desa Cot Kruet, Juli Cot Mesjid dan Abeuk Jaloh di Kecamatan Juli.

BPBD setempat melakukan pendataan serta koordinasi dengan aparat desa dan unsur terkait guna penanganan warga terdampak. Hingga Rabu (20/05), kondisi banjir dilaporkan mulai surut.

Selain kejadian baru, BNPB juga memantau sejumlah kejadian dalam tahap perkembangan data dan penanganan lanjutan.

Pada Provinsi Kalimantan Barat, banjir di Kabupaten Sintang yang terjadi sejak Minggu (17/05) masih berdampak di sejumlah wilayah.

Bencana ini melanda tiga kecamatan dan 15 desa, yakni Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir dan Kelam Permai.

Wilayah terdampak meliputi Desa Nanga Toran, Nanga Payak, Nanga Sungai, Pakak dan Melingkat di Kecamatan Kayan Hulu, Desa Landau Beringin, Neran Baya, Nanga Mau, Batu Netak dan Sungai Garong di Kecamatan Kayan Hilir, serta Desa Sungai Sintang, Sungai Buaya, Jaya Sakti, Bengkuang dan Gembala di Kecamatan Kelam Permai.

Sebanyak 5.078 KK terdampak dan 5.078 unit rumah terdampak. Selain itu, tercatat 5 unit rumah rusak berat, 13 unit jembatan gantung putus dan satu akses jalan terendam.

BPBD Kabupaten Sintang terus melakukan pendataan dan penanganan di lokasi terdampak. Kondisi mutakhir menunjukkan wilayah Kayan Hulu dan Kelam Permai berangsur surut, sedangkan beberapa desa di Kecamatan Kayan Hilir masih tergenang akibat kiriman air dari wilayah hulu.

Baca Juga:  Ini Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana pada 21 April 2025

Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau juga masih menjadi salah satu kejadian menonjol nasional. Hingga Rabu (20/05), luas lahan terbakar tercatat mencapai 3.474,74 hektare.

Penanganan dilakukan melalui operasi udara dan darat dengan dukungan BNPB, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan unsur terkait lainnya.

Pada pelaksanaan operasi darat, tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan di wilayah Kelurahan Tampan, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru.

Selain itu, BNPB juga terus melaksanakan operasi udara untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah terdampak.

Di Provinsi Sulawesi Selatan, banjir di Kabupaten Luwu Utara yang terjadi sejak Minggu (18/05) masih berada dalam masa tanggap darurat yang berlaku hingga Selasa (16/06).

Selain itu, banjir dan longsor di Kabupaten Bone juga masih dalam penanganan pemerintah daerah dengan status tanggap darurat hingga Kamis (21/05).

Sementara itu, di Provinsi Nusa Tenggara Timur, aktivitas Gunung Lewotobi Laki – laki di Kabupaten Flores Timur masih terus dipantau.

Status tanggap darurat akibat erupsi gunung api tersebut telah diperpanjang dan berlaku hingga Selasa (30/06).

Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.

Selain itu, beberapa wilayah mulai memasuki musim kemarau, sehingga berpotensi mengalami kekeringan dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering, khususnya banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG dan PVMBG, serta segera melakukan langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan ancaman bencana.

Kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana. I

Kirim Komentar