Laporan Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air per 26 Juni 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Kamis (25/6) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (26/6) pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan data yang dihimpun, bencana hidrometeorologi basah dan kering yang dipengaruhi oleh faktor cuaca masih menjadi fokus penanganan di sejumlah daerah.

Laporan pertama, banjir melanda Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, pada Rabu (24/6).

Peristiwa ini dipicu hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang terjadi sekitar pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB.

Curah hujan tersebut menyebabkan debit air sungai meningkat hingga meluap ke kawasan permukiman warga di sejumlah wilayah terdampak.

Banjir menggenangi wilayah di dua kecamatan, yakni Kecamatan Kotanopan yang meliputi Kelurahan Pasar Kotanopan dan Desa Saba Dolok, serta Kecamatan Tambangan yang meliputi Desa Lumban Pasir.

Akibat kejadian tersebut, sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Selain itu, kurang lebih 30 unit rumah dan sekitar 5,5 hektare lahan turut terdampak akibat luapan air.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mandailing Natal segera menuju lokasi terdampak untuk melakukan asesmen dan pendataan.

BPBD juga berkoordinasi dengan aparat desa setempat guna mendukung penanganan serta memastikan kondisi masyarakat terdampak.

Berdasarkan kondisi terkini, banjir telah berangsur surut. Meski demikian, pemantauan dan pendataan dampak masih terus dilakukan oleh BPBD Kabupaten Mandailing Natal untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani dengan baik.

Selanjutnya, di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, krisis air bersih terjadi akibat musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Penurunan debit sumber air bersih yang selama ini dimanfaatkan masyarakat menyebabkan kebutuhan air sehari – hari tidak dapat terpenuhi.

Kondisi tersebut memicu kekeringan yang berdampak pada masyarakat di Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari, Kamis (25/6) sekitar pukul 10.24 WIB.

Baca Juga:  GUNUNG MARAPI SUMATERA BARAT ERUPSI DAN BERSTATUS WASPADA

Kejadian ini berdampak pada sekitar 55 kepala keluarga (KK) di Desa Gedangan. Hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerugian materiil akibat kejadian tersebut.

Meski demikian, keterbatasan akses terhadap air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak.

Sebagai upaya penanganan, BPBD Kabupaten Grobogan telah melaksanakan pendistribusian bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak.

BPBD telah menyalurkan sebanyak 10.500 liter air bersih menggunakan tiga armada truk tangki BPBD untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Penanganan kekeringan di Kabupaten Grobogan juga didukung melalui penetapan Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Kekeringan, Kebakaran Hutan, dan Lahan berdasarkan Keputusan Bupati Grobogan Nomor 100.3.3.2/418/2026.

Status siaga darurat tersebut berlaku selama 184 hari, terhitung sejak 1 Mei hingga 31 Oktober 2026, sebagai dasar pelaksanaan langkah-langkah mitigasi dan penanganan dampak musim kemarau.

Masih di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Pemalang juga mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau.

Menurunnya curah hujan menyebabkan debit sumber air bersih yang selama ini dimanfaatkan masyarakat berkurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pemalang pada Kamis (25/6).

Wilayah terdampak meliputi dua kecamatan, yakni Desa Gombong di Kecamatan Belik dan Desa Gemuruh di Kecamatan Bawang. Berdasarkan data sementara, sekitar 86 KK terdampak akibat terbatasnya ketersediaan air bersih.

Sementara itu, pendataan terhadap kerugian materiil masih terus dilakukan oleh pihak terkait.

Sebagai langkah penanganan, BPBD Kabupaten Pemalang telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera dipenuhi.

Selain itu, BPBD juga melaksanakan pendistribusian bantuan air bersih ke wilayah terdampak.

Berdasarkan kondisi terkini, BPBD Kabupaten Pemalang telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak satu tangki atau sekitar 5.000 liter kepada masyarakat terdampak.

Baca Juga:  Kabupaten Bogor Jadi Piloting Digitalisasi Bansos Tepat Sasaran Nasional

Upaya pemantauan dan pendataan masih terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan dampak kekeringan, serta memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Sementara itu, cuaca ekstrem berupa angin puting beliung yang disertai hujan lebat melanda Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, Kamis (25/6) sekitar pukul 14.30 WIB.

Kejadian tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan satu unit musala di wilayah terdampak.

Peristiwa ini terjadi di dua kecamatan, yaitu Gampong Mekar Ayu, Kecamatan Timang Gajah, dan Gampong Ulu Naron, Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Berdasarkan data sementara, sedikitnya lima kepala keluarga (KK) terdampak, dengan proses pendataan masih terus dilakukan.

Dampak kerusakan yang tercatat meliputi dua unit rumah rusak berat, tiga unit rumah rusak ringan dan satu unit musala rusak berat.

Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Bener Meriah segera mengerahkan Tim Pemadam 02 Lampahan dan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan pengecekan dan penanganan di lokasi terdampak.

Penanganan juga melibatkan relawan bencana dan masyarakat setempat guna mempercepat proses penanganan serta pendataan dampak kejadian.

Upaya penanganan di lokasi telah dilaksanakan. BPBD Kabupaten Bener Meriah bersama unsur terkait masih terus melakukan pendataan dan pemantauan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera ditindaklanjuti.

BNPB mengimbau pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kekeringan yang dapat terjadi seiring dinamika kondisi cuaca dan musim.

Masyarakat diharapkan senantiasa memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, menggunakan air secara bijak di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan potensi bahaya atau kondisi darurat.

Kesiapsiagaan dan partisipasi seluruh pihak menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan. I

Kirim Komentar