Laporan Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air per 8 November 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia berdasarkan pemantauan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB sejak Sabtu (7/11) pukul 07.00 WIB hingga Minggu (8/11) pukul 07.00 WIB.

Memasuki minggu kedua bulan November, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), cuaca ekstrem, serta kekeringan masih mendominasi kejadian bencana yang berdampak pada masyarakat di sejumlah daerah.

Kejadian karhutla dilaporkan terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Kamis (5/11) sekitar pukul 20.00 Wita.

Kebakaran melanda kawasan Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Kecamatan Torue, dengan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai dua hektare.

Tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong bersama TNI, Polri, aparat desa, dan masyarakat melakukan koordinasi penanganan.

Kobaran api berhasil dipadamkan sekitar pukul 00.15 Wita pada Jumat (6/11).

Karhutla juga terjadi di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, pada Rabu (4/11) sekitar pukul 10.58 Wita.

Kebakaran yang dipicu aktivitas pembakaran lahan oleh pemilik lahan mengakibatkan sekitar empat hektare lahan terbakar.

BPBD Kota Kendari bersama tim Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan melakukan pemadaman, dilanjutkan dengan pendinginan, serta pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada titik api yang berpotensi memicu kebakaran lanjutan. Hingga Sabtu (7/11), api telah berhasil dipadamkan.

Di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, kebakaran lahan terjadi di Desa Tembe, Kecamatan Rarowatu Utara, pada Kamis (5/11) sekitar pukul 08.01 Wita.

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai satu hektare. BPBD Kabupaten Bombana bersama TNI, Polri dan masyarakat setempat melakukan pemadaman hingga api berhasil dipadamkan.

Sebagai informasi, Kabupaten Bombana telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan atau Lahan Tahun 2026 melalui Keputusan Bupati Bombana Nomor 100.3.3.2-899 Tahun 2026, terhitung mulai 1 Oktober hingga 30 November 2026.

Sementara itu, karhutla di Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, terjadi pada Sabtu (7/11) pukul 13.32 Wita.

Kebakaran melanda lahan perkebunan milik warga di kawasan Pegunungan Buntu Kamiri, meliputi wilayah Kelurahan Padang Sappa, Kecamatan Ponrang dan Desa Sampano, Kecamatan Larompong Selatan.

Luas lahan terdampak diperkirakan mencapai enam hektare. Api dengan cepat merambat akibat kondisi lahan yang kering disertai angin kencang. BPBD Kabupaten Luwu bersama Damkar, TNI dan masyarakat melakukan pemadaman, serta pendinginan secara manual untuk mencegah api meluas, mengingat kondisi medan pegunungan yang terjal.

Hingga Sabtu malam, api masih terpantau menyala di kawasan Gunung Buntu Kamiri, sedangkan kebakaran di Desa Sampano berhasil dipadamkan pada pukul 19.20 Wita.

Dalam penanganan lanjutan, dibutuhkan dukungan peralatan pemadaman dan perlengkapan pelindung diri bagi petugas.

Selain kejadian karhutla, bencana hidrometeorologi kering lainnya juga masih dilaporkan di wilayah lain. Di Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah, kekeringan masih berdampak pada berkurangnya cadangan sumber air bersih warga.

Baca Juga:  Jumlah Pengungsi Akibat Bencana Hidrometeorologi di Aceh Menurun Signifikan

Hal ini akibat musim kemarau yang terjadi sejak bulan Agustus 2026 lalu. Kekeringan berdampak pada sekitar 1.868 Kepala Keluarga (KK) atau 5.574 jiwa yang tersebar di 15 desa pada empat kecamatan, yakni Kecamatan Bulagi, Bulagi Selatan, Peijing Tengah, dan Bulagi Utara.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, BPBD Kabupaten Banggai Kepulauan telah mendistribusikan air bersih sebanyak 520.000 liter untuk 29 dusun.

Setiap dusun/desa mendapatkan dua bak penampungan dengan kapasitas masing – masing 5.000 liter. Mekanisme pendistribusian air bersih selanjutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Beralih pada kejadian cuaca ekstrem, di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, dilaporkan mengalami pohon tumbang yang menimpa sejumlah wisatawan di Desa Ngresepbalong, Kecamatan Limbangan pada Sabtu (7/11) pukul 18.10 WIB.

Peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia atas nama Dhea Sivaul Qolbi (19), sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka – luka akibat terkena ranting pohon.

Pohon berdiameter sekitar 90 sentimeter tersebut tumbang dari ketinggian kurang lebih 50 meter. Hujan yang mengguyur wilayah tersebut sehari sebelumnya diduga menjadi salah satu faktor penyebab kejadian.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Kendal, Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang, TNI, Polri, Sarda Jawa Tengah dan Damkar Sektor Boja melakukan evakuasi.

Proses evakuasi selesai pada pukul 18.32 WIB. Korban selanjutnya dibawa ke Puskesmas Limbangan dan diteruskan ke RSUD dr. H. Soewondo Kendal untuk pemulasaran jenazah.

Di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, cuaca ekstrem berupa hujan disertai angin kencang terjadi pada Jumat (6/11) sekitar pukul 15.00 WIB.

Kejadian tersebut mengakibatkan pohon tumbang menimpa rumah warga dan atap sejumlah bangunan berterbangan di Desa Giriharja, Kecamatan Rancah, serta Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa.

Sebanyak 61 kepala keluarga atau 204 jiwa terdampak. Tidak terdapat laporan pengungsian.

Kerusakan tercatat pada 60 unit rumah rusak ringan, tiga unit rumah rusak sedang, tiga fasilitas umum rusak sedang dan satu tempat usaha rusak berat.

BPBD Kabupaten Ciamis bersama Damkar, Tagana, aparat setempat, masyarakat dan relawan melakukan penanganan pohon tumbang, serta pembersihan puing – puing.

Hingga Sabtu (7/11), penanganan pohon tumbang masih berlangsung dan perbaikan atap rumah dilakukan oleh pemerintah desa bersama masyarakat.

Kejadian cuaca ekstrem lainnya dilaporkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (5/11) sekitar pukul 15.30 WIB.

Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang yang berlangsung cukup lama mengakibatkan pohon tumbang dan kerusakan bangunan di Desa Cibeuteung Udik dan Desa Karikil, Kecamatan Ciseeng, serta Desa Tarikolot dan Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup.

Sebanyak 31 kepala keluarga atau 132 jiwa terdampak. Satu kepala keluarga atau tiga jiwa sementara mengungsi ke rumah kerabat.

Kerusakan meliputi satu unit rumah rusak berat, 11 unit rumah rusak sedang, 19 unit rumah rusak ringan, serta satu warung rusak ringan.

Baca Juga:  BNPB Perkuat Tim Jitupasna dan R3P di Kota Palembang

BPBD Kabupaten Bogor bersama unsur terkait melakukan asesmen, evakuasi pohon tumbang, serta edukasi dan imbauan kebencanaan kepada masyarakat.

Hingga Sabtu (7/11), seluruh pohon tumbang telah selesai dievakuasi dan sebagian rumah yang mengalami kerusakan telah diperbaiki oleh pemiliknya.

Sementara itu, angin puting beliung terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara, pada Kamis (5/11) sekitar pukul 03.30 WIB.

Kejadian tersebut berdampak pada enam desa di Kecamatan Sei Rampah dan Kecamatan Sei Bamban, yaitu Desa Sei Rejo, Cempedak Lobang, Silau Rakyat, Sei Buluh, Pon, dan Penggalangan.

Sebanyak 10 kepala keluarga terdampak dengan total 10 unit rumah mengalami kerusakan. Tidak terdapat korban jiwa maupun pengungsian.

BPBD Kabupaten Serdang Bedagai telah melakukan asesmen, pemantauan dan koordinasi dengan camat dan kepala desa di wilayah terdampak.

BPBD Provinsi Sumatra Utara turut berkoordinasi untuk mendukung penanganan bencana. Hingga Sabtu (7/11), penanganan masih berlangsung.

Menyikapi rangkaian kejadian tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana di lingkungan masing – masing.

Menghadapi potensi cuaca ekstrem, masyarakat diharapkan memangkas ranting pohon yang rapuh di sekitar rumah, memeriksa kondisi atap dan bangunan, serta menghindari berteduh atau beraktivitas di bawah pohon maupun baliho ketika terjadi hujan disertai angin kencang.

Masyarakat yang berada di kawasan wisata alam, khususnya di sekitar air terjun dan jalur pegunungan, juga diminta memperhatikan kondisi cuaca dan mengikuti arahan petugas apabila kondisi dinilai tidak aman.

Untuk mengantisipasi karhutla, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.

Petugas dan masyarakat yang melakukan pemadaman juga perlu memperhatikan keselamatan diri, terutama saat menghadapi medan terjal dan kondisi angin yang dapat mempercepat perambatan api.

BNPB mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi pada masa peralihan musim, seperti saat ini, seperti hujan lebat disertai petir, angin kencang atau puting beliung, banjir, serta tanah longsor.

Selalu cek informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini secara berkala melalui kanal resmi BMKG, bersihkan saluran air, selokan dan talang rumah agar aliran air tidak tersumbat, serta menyebabkan genangan.

Selain itu, pangkas dahan atau ranting pohon yang terlalu lebat, rapuh atau berada dekat dengan kabel listrik dan bangunan, pahami jalur evakuasi dan siapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat untuk tiga hari.

BNPB juga mengingatkan pemerintah daerah untuk melakukan delapan langkah kesiapsiagaan, yakni pemetaan wilayah rawan, memastikan kesiapan sumber daya manusia, personel, peralatan dan logistik, lalu mengoptimalkan dana darurat, serta memperkuat mekanisme sistem peringatan dini.

Langkah lainnya adalah meningkatkan sosialisai evakuasi mandiri, termasuk pada kelompok rentan dan normalisasi sungai, serta pembersihan fasilitas pengendali banjir. I

Kirim Komentar