OMC Wilayah Jateng untuk Penanganan Darurat Banjir Muria Raya

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk penanganan darurat bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Muria Raya.

Operasi dimulai pada Kamis (15/1) dan dipusatkan dari Lapangan Udara Ahmad Yani, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Satu unit pesawat Caravan dengan registrasi PK-SNP telah memulai penyemaian pertama pada pukul 06.00 WIB pagi ini.

Target awan sasaran berada di perairan utara Semarang. Operasi modifikasi cuaca ini dilakukan untuk mereduksi curah hujan yang terpantau tinggi di wilayah terdampak bencana yaitu Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara.

Selain dukungan OMC, BNPB menurunkan tim reaksi cepat (TRC) ke tiga kabupaten terdampak banjir dan longsor di wilayah Muria Raya.

Tim yang dipimpin oleh Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB Agus Riyanto melakukan asesmen lapangan untuk ditindaklanjuti menjadi rencana penanganan darurat selanjutnya.

Banjir melanda tiga kabupaten di wilayah pesisir utara Jawa Tengah sejak Jumat (9/1). Hujan dengan intensitas tinggi sepanjang hari membuat debit air sungai meningkat dengan cepat dan menyebabkan beberapa tanggul desa jebol.

Kabupaten Kudus terdampak tiga bencana alam sekaligus, yaitu banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem.

Total terdapat sembilan kecamatan terdampak bencana banjir, longsor, serta cuaca ekstrem di Kabupaten Kudus.

Titik longsor di Kabupaten Kudus tercatat sebanyak 127 titik longsor. Jumlah desa terdampak 14 desa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bae, Dawe dan Gebog.

Warga terdampak longsor mencapai 1.115 jiwa, satu orang dilaporkan meninggal dunia. Sebanyak 164 warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Tim kaji cepat mencatat kerugian materiil berupa 32 unit rumah rusak sedang, 1 unit gedung rusak berat dan satu fasilitas umum rusak ringan.

Upaya pembersihan lumpur dan material longsoran secara bersama – sama dikerjakan oleh tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, personil TNI. Polri, dan juga warga sekitar.

Selain tanah longsor, bencana banjir juga terjadi pada enam wilayah kecamatan lainnya. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, Bae, Kaliwungu, dan Jati.

Baca Juga:  Pengesahan Dokumen R3P 13 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumbar

Hujan dengan intensitas tinggi selama tiga jam membuat debit sungai Piji naik dan meluap ke permukiman. Tinggi muka air bervariasi antara 30 sentimeter (cm) hingga 100 cm.

Akibat banjir, 15.284 Kepala Keluarga (KK) atau 48.190 jiwa terdampak. Dua orang warga meninggal dunia.

Banjir menyebabkan kerugian materiil antara lain 12.528 rumah terdampak, 9 unit fasilitas ibadah terdampak, lima fasilitas pendidikan terdampak, dan 2.735,44 hektare sawah terdampak.

Kabupaten Jepara juga mengalami bencana yang sama, yaitu banjir dan tanah longsor.

Banjir menggenangi Desa Kuanyar, Kecamatan Mayong pascahujan dengan intensitas tinggi dengan durasi lebih dari dua jam.

Sejumlah desa di Kecamatan Mayong terendam dengan ketinggian rata – rata air 50 cm hingga 60cm.

BPBD Kabupaten Jepara masih melakukan asesmen untuk mengkaji jumlah kerugian dan warga terdampak.

Dalam upaya penanganan darurat, warga dan personil BPBD bergotong-royong memperbaiki tanggul yang rusak secara manual dengan menggunakan karung sak.

Tiga Kecamatan di Jepara turut dilanda bencana tanah longsor. Lokasi terdampak antara lain Dukuh Gronggongan, Desa Tanjung, di Kecamatan Pakisaji, Desa Damarwulan dan Desa Tempur di Kecamatan Keling, serta Desa Bategede di Kecamatan Nalumsari.

Longsor berimbas pada 3.642 jiwa. Lima warga di antaranya harus mengungsi, bahkan material longsor menutupi badan jalan hingga membuat akses mobilitas warga terputus.

Kondisi ini memaksa tim penanggulangan bencana melakukan distribusi logistik kepada warga terdampak di Desa Tempur dengan sistem estafet menggunakan kendaraan roda dua.

Hingga Rabu (14/1), tim gabungan terus melakukan pembersihan longsoran dan membuat jalan darurat di wilayah Kaliombo.

Beralih ke Kabupaten Pati, banjir dan tanah longsor melanda 84 desa di 17 kecamatan. Tim reaksi cepat mencatat 3.00 KK terdampak, 380 warga mengungsi.

Kerugian materiil rumah warga terdampak banjir Kabupaten Pati yang terdata oleh tim kaji cepat, yaitu empat unit rumah rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, dan dua unit rumah rusak ringan.

Baca Juga:  Realisasi PAD Padang Tahun 2025 Tertinggi Dalam Kurun Satu Dekade

Selain rumah warga, kerugian yang timbul dari rusaknya infrastruktur dan fasilitas umum juga cukup banyak antara lain delapan unit fasilitas ibadah, sembilan unit fasilitas pendidikan, 10 titik akses jalan terdampak dan 44 unit talud jalan terdampak.

Selain itu, 1 unit tanggul jebol, 1 unit jembatan putus, satu bendung kali jebol, 869,5 hektare lahan persawahan terdampak, dan 45 hektare lahan tampak terdampak.

Pemerintah Kabupaten Pati melakukan upaya darurat dengan mendirikan dapur umum di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso dan Kantor BPBD Kabupaten Pati.

Untuk sementara, jalur Sukolilo – Sumbersoko dialihkan melalui jalur alternatif karena jalur biasanya tertimbun longsor.

Pemerintah Kabupaten Kudus menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai 12 – 19 Januari 2026.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Jepara dan Pati masih menggunakan penetapan status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor dan angin puting beliung dan gelombang tinggi.

BNPB memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas utama, baik bagi warga yang mengungsi terpusat maupun mandiri.

Untuk tahap awal, BNPB telah mengirimkan dukungan bantuan logistik dan peralatan kepada masing – masing daerah terdampak berupa paket sembako, terpal, sandbag, peralatan kebersihan, dan pompa alkon.

Berdasarkan asesmen lapangan, upaya penanganan darurat yang perlu disegerakan antara pompanisasi genangan, normalisasi aliran air dari sampah dan lumpur, dan pemulihan akses darurat dari material longsoran.

Adapun kebutuhan mendesaknya adalah dukungan alat berat untuk pembersihan lumpur dan pembukaan akses jalan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk selalu waspada saat memasuki periode musim penghujan saat ini.

Prakiraan cuaca BMKG menunjukkan wilayah terdampak banjir longsor di Muria Raya masih berpotensi turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Jika hujan dengan intensitas tinggi turun dalam durasi lebih dari satu jam, warga dihimbau untuk mengevakuasi diri sementara ke tempat yang lebih aman dan menghindari bepergian, terutama yang melewati jalur perbukitan. I

Kirim Komentar