Pemerintah terus memperkuat daya saing industri nasional dengan menghadirkan kemudahan akses pengusaha terhadap bahan baku, gas industri dan Bahan Bakar Minyak (BBM) industri secara efisien, transparan, serta berkelanjutan.
Menurut Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat pertumbuhan sektor manufaktur, meningkatkan produktivitas dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Dengan pasokan yang lebih terjamin dan efisien, industri nasional diharapkan semakin kompetitif, mampu menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” katanya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta.
Wamenperin Riza menegaskan bahwa industri dalam negeri harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
“Saya berkesempatan menghadiri Rapat Koordinasi Bidang Perindustrian Kadin Indonesia dan menyampaikan sejumlah hal strategis antara lain penguatan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal guna menjaga daya saing, serta keberlanjutan investasi industri manufaktur,” jelasnya.
Selain itu, dia menambahkan, pengendalian dan pembatasan impor secara lebih terukur, khususnya terhadap barang konsumsi yang telah mampu diproduksi oleh industri dalam negeri.
“Strategi lainnya adalah pengetatan kembali pelabuhan masuk impor atau entry point untuk barang konsumsi tertentu guna meningkatkan efektivitas pengawasan dan pengendalian impor,” tutur Wamenperin Riza.
Pemerintah, katanya, juga mendorong adanya proteksi pada industri nasional di tengah banjir produk impor di pasaran.
Sejalan dengan hal tersebut, Wamenperin Riza menambahkan, implementasi Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), sebagaimana diatur dalam Permenperin No. 13 Tahun 2025 menegaskan bahwa kewajiban perusahaan industri, perusahaan jasa industri dan kawasan industri untuk menyampaikan data secara berkala sebanyak empat kali dalam setahun.
“Namun demikian, tingkat kepatuhan pelaporan data tersebut masih perlu terus ditingkatkan agar mendukung akurasi dan kualitas perumusan kebijakan industri nasional,” katanya.
Wamenperin Riza menjelaskan bahwa pembahasan dalam pertemuan tersebut juga menyoroti posisi Indonesia sebagai Partner Country dalam Industrial International Exhibition (INNOPROM) 2026.
“Hal ini membuka peluang besar untuk memperkuat posisi industri nasional dalam rantai nilai global, sekaligus menarik investasi dan memperluas kerja sama internasional yang mendukung agenda industrialisasi nasional,” ujarnya. I






