Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Kampung Tangguh Bencana (KTB) mengadakan simulasi aktivasi sirine alat peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir di empat sungai.
Simulasi itu untuk menguji dan memastikan alat dan sistem peringatan dini banjir berfungsi, termasuk menyosialisasikan dan mengingatkan pemahaman terkait rambu EWS banjir kepada masyarakat.
Simulasi EWS banjir dilakukan di Sungai Gajah Wong wilayah Gendeng dan Tegalgendu.
Sungai Code di wilayah Ledok Tukangan, Kali Belik di wilayah Klitren Lor dan Sungai Winongo di wilayah Pingit.
Simulasi dilakukan dengan membunyikan sirine EWS dengan pola bunyi satu bunyi panjang tanpa jeda.
Kemudian, suara informasi uji coba simulasi dan himbauan ke masyarakat jangan panic, serta diharapkan tetap tenang dan mendengarkan pengumuman EWS banjir.
“Jadi hari ini kita melaksanakan uji coba EWS. Menguji peralatan EWS, apakah berbunyi atau tidak, apakah dalam keadaan siap,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Nur Hidayat saat simulasi EWS di bantaran Sungai Gajah Wong di Gendeng.
Dia menjelaskan dalam simulasi itu, sekaligus menyosialisasikan terkait rambu-rambu peringatan dini EWS.
Dalam peringatan EWS ada status waspada, siaga dan awas dengan pola bunyi sirine yang berbeda – beda.
Misalnya status waspada dengan pola bunyi berupa serangkaian bunyi enam kali jeda, tindakannya warga diimbau tenang dan tidak panik, tetap waspada akan bahaya banjir, serta memantau informasi dari BPBD.
“Kita bersama – sama menyosialisasikan kegiatan ini agar EWS ini bisa dipahami masyarakat. Ini suatu alat yang sangat vital untuk peringatan dini karena dalam kebencanaan, peringatan dini itu adalah alat nomor satu dalam menyelamatkan diri,” jelasnya.
Status siaga banjir pola bunyi EWS cepat dan berulang empat kali jeda dan bunyi empat kali.
Tindakanya warga diimbau agar siaga dan berhati – hati terhadap bahaya banjir, matikan listrik, siapkan tas siaga bencana, perhatikan jalur evakuasi, amankan barang berharga dan tunggu informasi selanjutnya dari BPBD Kota Yogyakarta.
Untuk status awas banjir pola bunyi sirine panjang dan terus menerus.
“Jadi, ada status waspada, siaga, dan awas supaya masyarakat memahami. Kalau berbunyi demikian uji coba, berbunyi demikian ini awas, dan sebagainya. Setiap rambu itu ada suatu peringatan kesiapsiagaan masyarakat. Ketika awas sudah harus evakuasi dan masyarakat menjauh dari pinggiran sungai. Ketika siaga mempersiapkan diri segala sesuatunya, menentukan titik kumpul dan sebagainya,” ungkap Nur.
Dia menyebutkan, saat ini total ada 36 ews banjir milik BPBD Kota Yogyakarta yang tersebar di Sungai Gajah Wong, Code, Belik, Winongo dan di hulu sungai perbatasan dengan Sleman.
Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta memberikan pesan kepada masyarakat untuk merawat memahami penggunaan EWS banjir.
Sementara itu Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Bambang Seno Baskoro mengatakan Komisi C DPRD Kota Yogyakarta mendukung simulasi EWS banjir dan diharapkan dilakukan secara rutin.
Maksud simulasi tersebut juga agar masyarakat memahami terkait keberadaan EWS, terutama di tiga sungai besar di Kota Yogyakarta, yakni di Gajah Wong, Code, serta Winongo, memahami peringatan EWS banjir dan tindakan yang harus dilakukan masyarakat.
“Dengan simulasi ini supaya masyarakat khususnya di pinggiran bantaran sungai ini bisa memahami mana saat harus waspada, mana di saat harus siap – siap dan lain sebagainya. Kami Komisi C mendukung program BPBD Kota Yogyakarta supaya kegiatan ini bisa menjadi rutinitas setiap setahun minimal tiga kali, sehingga masyarakat bisa memahami saat ada bencana banjir,” tutur Bambang.
Sedangkan Ketua Kampung Tangguh Bencana, Gendeng, Baciro Dedi Hermawan menyampaikan terima kasih kepada BPBD Kota Yogyakarta dan Komisi C DPRD Kota Yogyakarta yang mengadakan simulasi EWS di Sungai Gajah Wong di wilayah Baciro.
EWS di wilayah itu sudah ada sekitar enam tahun lalu dan masyarakat sudah mengetahui keberadaannya.
Menurutnya, EWS itu pernah berbunyi saat ketinggian air Sungai Gajah Wong naik hingga sekitar 3 meter dan air meluap.
Selain dari suara EWS, KTB juga memantau lansung ketinggin sungai. “Dengan adanya EWS ini sangat berarti bagi kami yang ada di bantaran sungai, terutama ketika menghadapi air pasang atau banjir,” ujar Dedi. I






