Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin terus mendorong penguatan karakter, melalui pendidikan agama.
Hal itu disampaikan saat menghadiri Tasyakuran Khotmil Qur’an ke-31 Pondok Pesantren Ibrohimiyyah, Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus diperkuat dengan pembangunan karakter berbasis nilai – nilai keagamaan.
Dia menambahkan, Pemeirntah Provinsi (Pemprov) Jateng memberikan apresasi kepada lembaga pesantren, yang telah memberikan penguatan nilai – nilai agama kepada santrinya.
Bahkan, pemprov juga memberikan perhatian berupa pemberian tali asih kepada penghafal Al-Qur’an di wilayahnya.
Wagub menjelaskan, perhatian pemerintah terhadap para penghafal Al-Qur’an, merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat fondasi spiritual masyarakat Jawa Tengah, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyerahkan bisyarah atau tali asih kepada 13 penghafal Al-Qur’an.
Menurut Wagub, Pemprov Jateng secara konsisten memberikan penghargaan kepada para penghafal Al-Qur’an yang diwisuda di berbagai daerah.
Langkah itu, lanjutnya, merupakan bentuk pengakuan atas peran strategis para hafiz, dalam menjaga nilai – nilai moral dan spiritual bangsa.
“Al-Qur’an itu membawa ketenangan, membawa kemakmuran hati. Orang yang hafal Al-Qur’an adalah orang – orang pilihan yang diberi amanah oleh Allah, untuk menjaga kemurnian kitab suci,” ungkapnya.
Menurut dia, sejarah tersebut menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan hanya bacaan, melainkan sumber transformasi peradaban.
“Keindahan Al-Qur’an mampu mengubah hati yang keras menjadi lembut. Karena itu, jangan sampai kita jauh dari Al-Qur’an. Jika umat Islam dekat dengan Al-Qur’an, Insyaallah hatinya akan lembut, pikirannya jernih dan kehidupannya terarah,” tuturnya.
Namun, Wagub mengingatkan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada aspek hafalan semata.
Para santri, katanya, harus melanjutkan proses pendalaman makna melalui tafsir, hingga pengamalan nilai – nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari – hari.
Dia menegaskan, tantangan terbesar para penghafal Al-Qur’an bukan pada menghafalnya, melainkan menjaga hafalan sekaligus mengimplementasikan ajarannya.
“Jangan hanya dihafal, tapi harus dipahami. Jangan hanya tahu panjang pendek bacaannya, tapi juga mengerti maknanya. Setelah wisuda, ini bukan akhir, justru awal untuk lebih mendalami Al-Qur’an,” katanya.
Pesan tersebut, lanjut Wagub, sejalan dengan visi Pemprov Jateng dalam membangun sumber daya manusia unggul, yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berkarakter.
Menurutnya, pondok pesantren memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan modernitas, tanpa kehilangan akar nilai keislaman.
“Kalau semakin banyak generasi muda yang dekat dengan Al-Qur’an dan memahami kandungannya, maka Jawa Tengah akan memiliki fondasi moral yang kokoh untuk menyongsong masa depan,” ujarnya. I





