Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan penanganan darurat dan pemulihan bencana hidrometeorologi basah di Provinsi Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara hingga Sabtu (24/1).
Upaya terpadu lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat terdampak, sekaligus mempercepat transisi dari fase tanggap darurat menuju pemulihan awal.
Dalam perkembangan terkini, terdapat penambahan satu korban meninggal dunia, sehingga total korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.201 jiwa, sedangkan korban hilang sebanyak 142 jiwa dan untuk jumlah pengungsi sebanyak 113.672 jiwa.
Upaya percepatan pembangunan hunian sementara (huntara), pembukaan dan pembersihan akses jalan dan jembatan, serta pemulihan kawasan permukiman terus ditingkatkan agar wilayah terdampak semakin kondusif untuk dihuni kembali.
Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim gabungan yang terdiri dari BNPB, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan kementerian/lembaga terkait lainnya.
Berdasarkan laporan distribusi logistik yang berhasil dihimpun sejak 29 November 2025 hingga 23 Januari 2026, total bantuan logistik yang telah disalurkan kepada masyarakat terdampak mencapai 1.763,1 ton.
Distribusi tersebut dilakukan melalui berbagai moda transportasi, yakni 56 sorti pesawat charter BNPB, 66 sorti pesawat Hercules, 55 truk jalur darat, dan 7 unit kapal laut.
Sementara itu, distribusi harian yang dilakukan pada 23 Januari 2026 di Provinsi Aceh tidak melakukan distribusi logistik.
Untuk wilayah Sumatra Utara, distribusi dilakukan melalui jalur darat menggunakan 10 unit truk dengan total distribusi 35,52 ton, sedangkan untuk Sumatra Barat, bantuan logistik telah dikirim melalui jalur darat sebesar 6,22 ton.
Selain pos logistik di tiap provinsi, BNPB juga mendistribusikan logistik dari 2 Pos Logistik yang dapat menjangkau tiga provinsi tersebut, yakni melalui Pos Logistik Sumatra Barat dan Pos Logistik Aceh.
Dari pos logistik Sumatra Barat, total bantuan yang telah didistribusikan mencapai 977,25 ton, sedangkan dari Pos Logistik Aceh telah didistribusikan sebanyak 2.142 ton bantuan.
BNPB bersama pemerintah daerah terus mengakselerasi pembangunan hunian sementara dengan target utama penyelesaian sebelum Ramadan.
Dari total 29.621 unit huntara yang diajukan, sebanyak 7.414 unit masih dalam proses pembangunan hingga saat ini.
Sementara itu, 1.056 unit telah selesai dibangun dan siap dihuni. Selain itu, pengajuan pembangunan hunian tetap tercatat sebanyak 13.082 unit, dengan 648 unit di antaranya saat ini berada dalam tahap konstruksi.
Skema bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) juga terus dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat terdampak selama masa transisi menuju hunian tetap.
Memasuki akhir Januari 2026, pengajuan DTH telah mencapai 14.822 kepala keluarga.
Dari jumlah tersebut, 9.678 rekening penerima telah siap, dan bantuan telah disalurkan kepada 3.536 Kepala Keluarga (KK).
Sebagai bagian dari upaya percepatan tanggap darurat, pemulihan dan mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah dalam jangka pendek, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Hingga 22 Januari 2026, OMC di wilayah Aceh telah dilaksanakan sebanyak 532 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) sebesar 508.000 kilogram.
Di wilayah Sumatra Utara, OMC telah dilakukan sebanyak 406 sorti dengan total bahan semai 357.000 kilogram.
Sementara itu, di Sumatra Barat tercatat 409 sorti dengan total bahan semai mencapai 406.325 kilogram.
Operasi ini bertujuan untuk mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi terjadinya bencana susulan di wilayah rawan.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, serta seluruh unsur masyarakat guna memastikan penanganan bencana berjalan secara efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Dengan sinergi yang solid, percepatan pemulihan infrastruktur dasar, pemenuhan kebutuhan hunian layak dan penguatan langkah mitigasi diharapkan mampu mengembalikan kehidupan masyarakat terdampak secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman, tangguh, serta berdaya dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang. I
