Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 22 April 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemutakhiran data kejadian bencana dan upaya penanganan darurat oleh pemerintah daerah pada periode Selasa (21/4) hingga Rabu (22/4) pukul 07.00 WIB.

Hasil pencatatan menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi masih mendominasi kejadian di tanah air.

Sebagai salah satu kejadian yang tercatat, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kampung Sekolaq Joleq, Kecamatan Sekolaq Darat, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa (21/4).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Barat melaporkan bahwa satu hektare lahan perkebunan terbakar.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Kutai Barat mengerahkan tiga unit mobil ke lokasi kejadian.

Berdasarkan laporan terkini, api telah padam dan situasi aman terkendali.

Sementara itu, hujan lebat selama dua jam memicu Daerah Aliran Sungai (DAS) Welang meluap dan merendam permukiman warga di dua kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur pada Selasa (21/4).

Dua kecamatan terdampak meliputi Kecamatan Kraton (Desa Sidogiri, Klampisrejo dan Tambakrejo), serta Kecamatan Pohjentrek (Desa Sukorejo). Tercatat sebanyak 1.320 unit rumah terdampak.

BPBD Kabupaten Pasuruan melakukan pendataan dan kaji cepat di lokasi kejadian.

Hingga Rabu (22/4), banjir masih menggenangi rumah warga dengan ketinggian 10 sentimeter (cm) hingga 60 cm.

Selanjutnya, di Provinsi Jawa Barat, cuaca ekstrem, banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor pada 19 – 20 April 2026.

Hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan kerusakan rumah di enam kecamatan pada Minggu (19/4).

BPBD Kabupaten Bogor mencatat dampak angin kencang di Kecamatan Tamansari (Desa Sirnagalih dan Sukamantri), Kecamatan Pamijahan (Desa Cimayang) dan Kecamatan Dramaga (Desa Sukadamai dan Purwasari).

Selain itu, kejadian juga dilaporkan di Kecamatan Ciomas (Desa Padasuka, Sukamakmur dan Ciomas Rahayu), Kecamatan Ciampea (Desa Cinangka), serta Kecamatan Leuwiliang (Desa Karyasari).

Baca Juga:  Ini Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana pada 11 Maret 2025

Sebanyak sembilan unit rumah mengalami rusak ringan, delapan unit rusak sedang, dan satu unit rusak berat.

BPBD Kabupaten Bogor bersama tim gabungan melakukan pembersihan material bangunan yang rusak.

Tidak hanya itu, hujan dengan intensitas tinggi juga memicu peningkatan debit air Kali Cikantul dan jebolnya tanggul, sehingga menyebabkan banjir di Kecamatan Tamansari (Desa Sirnagalih) dan Kecamatan Pamijahan (Desa Purwabakti) pada Senin (20/4).

BPBD Kabupaten Bogor melaporkan 4 unit rumah rusak berat, 5 unit rumah rusak sedang, 4 unit rumah rusak ringan, dan 50 unit rumah lainnya terdampak.

Selain itu, BPBD bersama warga setempat melakukan pembersihan lumpur pascabanjir dan mendistribusikan bantuan kebutuhan dasar kepada warga terdampak.

Di samping banjir, hujan lebat juga memicu tanah longsor yang menerjang permukiman warga di Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan dan Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang pada Senin (20/4).

BPBD Kabupaten Bogor mencatat 5 unit rumah rusak berat, 14 unit rumah rusak sedang dan 14 unit rumah rusak ringan.

Selain itu, 5 unit rumah lainnya, satu akses jalan dan beberapa fasilitas ibadah dan kesehatan turut terdampak.

BPBD bersama warga masih melakukan pembersihan material longsor, sedangkan akses jalan yang tertutup masih dalam penanganan bersama instansi terkait.

Memasuki masa peralihan musim, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami cuaca ekstrem dengan hujan sedang hingga lebat pada periode 22 – 24 April 2026.

Oleh karena itu, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan memantau kondisi cuaca secara berkala, membersihkan dan memelihara saluran drainase.

Selain itu, menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat, seperti air minum, makanan ringan, pakaian ganti, obat – obatan pribadi, perlengkapan kebersihan, senter, baterai cadangan, power bank, masker, dan dokumen penting yang disimpan dalam wadah kedap air.

Baca Juga:  Sebanyak 174 Meninggal Dunia dan 79 Hilang pada Bencana Hidrometeorologi di Aceh, Sumut serta Sumbar

Sebagai langkah lanjutan, pemerintah daerah diharapkan mempersiapkan rencana kedaruratan serta meninjau kesiapan personel dan peralatan agar dapat merespons situasi darurat dengan cepat.

Masyarakat juga diimbau tetap waspada dan segera mengikuti arahan aparat setempat apabila terjadi kondisi darurat bencana. I

Kirim Komentar