Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 30 Mei 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Jumat (29/5) pukul 07.00 WIB hingga Sabtu (30/5) pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan data yang dihimpun, kejadian hidrometeorologi basah masih mendominasi, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang terus menjadi perhatian di pemerintah daerah.

Kejadian baru pertama adalah cuaca ekstrem yang berdampak signifikan di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara, Kamis (28/5).

Sebanyak 94 Kepala Keluarga (KK) atau 348 jiwa terdampak dan 94 unit rumah mengalami kerusakan akibat kejadian tersebut.

Wilayah terdampak meliputi Desa Patumbak dan Lantasan Baru di Kecamatan Patumbak, Desa Sidodadi, Sidomulyo, Namusuro dan Selamat di Kecamatan Biru-Biru, Desa Tuntungan I, Tuntungan II, Pertampilen, Lama, Sembahe Baru, Durin Jangak, Hulu dan Simpur di Kecamatan Pancur Batu, Desa Deli Tua, Ujung Labuhan dan Sugihrejo di Kecamatan Namorambe, Desa Mekar Sari dan Sukamakmur di Kecamatan Deli Tua, Desa Sidodadi di Kecamatan Batang Kuis, serta Desa Percut di Kecamatan Percut Sei Tuan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Deli Serdang telah melakukan asesmen di lokasi kejadian dan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk mendukung penanganan warga terdampak, serta pendataan lanjutan.

Berikutnya, banjir terjadi di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Rabu (27/05). Peristiwa yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi tersebut berdampak pada 314 KK atau 968 jiwa.

Sebanyak 215 KK atau 747 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman, sementara 468 unit rumah terdampak genangan.

Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Pakowa di Kecamatan Wanea, Kelurahan Paal IV di Kecamatan Tikala, Kelurahan Dendengan Dalam di Kecamatan Paal Dua dan Kelurahan Komo dan Ternate Tanjung di Kecamatan Wenang.

Hingga Jumat (29/05), kondisi banjir dilaporkan mulai surut dan masyarakat secara bertahap melakukan pembersihan lingkungan dan rumah masing – masing.

Selain kejadian baru, BNPB juga memantau sejumlah kejadian yang masih berada dalam tahap penanganan dan pengkinian data.

Di Provinsi Gorontalo, banjir bandang yang melanda Kabupaten Gorontalo Utara pada Selasa (26/05), masih menjadi salah satu kejadian menonjol.

Baca Juga:  Kepala BNPB Dampingi Menko PMK Pantau Penanganan Pengungsi

Bencana tersebut berdampak pada 747 KK atau 3.524 jiwa, 724 unit rumah terdampak, 3 unit rumah hanyut dan 20 unit rumah mengalami rusak berat.

Wilayah terdampak meliputi Desa Biau, Bualo, Omuto, Didingga dan Luhuto di Kecamatan Biau. Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara menetapkan status tanggap darurat sejak Selasa (26/05) hingga Rabu (24/06).

Saat ini, banjir telah surut dan BPBD bersama lintas sektor terus melakukan asesmen pascabencana, pembersihan lingkungan, serta penyaluran bantuan makanan siap saji kepada masyarakat terdampak.

Di Provinsi Sulawesi Selatan, banjir di Kabupaten Luwu Utara yang terjadi pada Rabu (13/05) lalu, masih menjadi salah satu kejadian yang terus dipantau BNPB.

Pemerintah Kabupaten Luwu Utara masih memberlakukan status tanggap darurat hingga Selasa (16/06).

Wilayah terdampak meliputi Desa Beringin Jaya, Lembang-Lembang, Polewali dan Mekarsari Jaya di Kecamatan Baebunta Selatan, Desa Pombakka, Limbang Wara, Waelawi, Cenning dan Wara di Kecamatan Malangke Barat, serta Desa Tolada, Pattimang, Pettalandung, Putemata, Tingkara, Ladongi, Salekoe, Malangke, Pince Pute, Benteng, Takkalala, Tokke, Tandung dan Girikusuma di Kecamatan Malangke.

Selain itu, Desa Baloli di Kecamatan Baebunta, Desa Ujung Mattajang di Kecamatan Mappedeceng, Desa Pongko dan Batangtongka di Kecamatan Bone-Bone, serta Desa Bungadidi di Kecamatan Tanalili.

Bencana ini berdampak pada 3.685 KK atau 13.114 jiwa. Sebanyak 14 jiwa masih mengungsi dan 3.685 unit rumah terdampak.

Hingga saat ini banjir belum surut dan curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih terjadi di wilayah terdampak.

Sementara itu, di Provinsi Kalimantan Timur, banjir di Kabupaten Kutai Barat yang terjadi pada Senin (18/05) lalu, berdampak pada 4.748 KK atau 15.258 jiwa dan 3.116 unit rumah terdampak.

Wilayah terdampak meliputi Kampung Muara Beloan di Kecamatan Muara Pahu dan sejumlah wilayah lainnya di Kecamatan Damai, Long Iram, Melak, serta Penyinggahan.

Kondisi banjir telah surut di empat kecamatan, tapi genangan masih terjadi di Kampung Muara Beloan akibat banjir kiriman dari Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Pahu dengan tinggi muka air mencapai 200 sentimeter.

Baca Juga:  Laporan Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 19 Januari 2026

Di Provinsi Sulawesi Utara, banjir di Kabupaten Bolaang Mongondow pada Rabu (27/05), telah berdampak pada 181 KK atau 601 jiwa.

Selain itu, 12 unit rumah mengalami kerusakan dan 134 unit rumah terdampak.

Wilayah terdampak meliputi Desa Solimandungan I, Solimandungan II, Solimandungan Baru dan Komangaan di Kecamatan Bolaang.

Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat sejak Selasa (27/05) hingga Senin (09/06).

Saat ini, banjir telah surut dan masyarakat mulai melakukan pembersihan lingkungan.

Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau juga masih menjadi salah satu perhatian nasional.

Hingga Jumat (29/05), luas lahan terbakar bertambah 4,86 hektare, sehingga total luas lahan terbakar mencapai 14.921,14 hektare.

Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan sejak Kamis (13/02) hingga Minggu (30/11).

BNPB terus melakukan pendampingan melalui Tim Deputi Bidang Penanganan Darurat dan dukungan operasi lapangan.

Pada perkembangan terbaru, BPBD Kota Pekanbaru bersama Manggala Agni melakukan operasi pemadaman darat pada sejumlah titik kebakaran untuk mencegah meluasnya area terdampak.

Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Di sisi lain, beberapa wilayah mulai memasuki musim kemarau yang meningkatkan potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapan personel, peralatan dan langkah mitigasi, sedangkan masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca, menghindari aktivitas pembakaran lahan, serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan potensi ancaman bencana di wilayahnya.

Kesiapsiagaan, deteksi dini dan respons cepat seluruh unsur menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko, serta dampak bencana, sehingga keselamatan masyarakat dapat terjaga secara optimal. I

Kirim Komentar