Presiden Prabowo Subianto meminta jajarnya para menteri untuk mengkaji skenario penerapan kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) dan pengurangan hari kerja guna menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Perintah tersebut disampaikan Kepala Negara saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara.
“Kita bersyukur kita aman, tetapi kita juga harus tetap berupaya mengurangi konsumsi BBM kita,” ujarnya.
Prabowo mengatakan, skenario tersebut masih perlu dikaji sebagai antisipasi jika krisis ekonomi terjadi imbas perang di Timur Tengah yang berdampak pada kemahalan harga minyak.
Menurutnya, lonjakan harga bahan baku energi akan berdampak pada berbagai sektor, termasuk harga pangan, sehingga mewanti – wanti semua pihak untuk tidak merasa terlalu aman tanpa kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.
“Namun, tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif,” tegas Presiden.
Dia mencontohkan Pemerintah Pakistan telah memandang situasi global saat ini sudah kritis.
Skenario yang diterapkan Pakistan, Prabowo menambahkan, meliputi pengurangan gaji pejabat negara dan DPR, mengurangi konsumsi BBM, serta penggunaan mobil kementerian sampai menerapkan WFH dan mengurangi hari kerja.
Menurut Presiden, Indonesia juga pernah berhasil melewati masa krisis, yakni saat pandemi Covid-19 yang memicu krisis ekonomi dan kesehatan di seluruh dunia.
“Dulu kita atasi Covid dan kita berhasil. Kita mampu banyak bekerja dari rumah dengan efisien. Artinya, kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” ungkapnya.
Kepala Negara pun meminta kepa jajaran para menteri untuk tidak boleh lengah, karena berbagai kemungkinan terburuk harus diantisipasi. “Kita tidak panik, tetapi kita juga tidak boleh terlalu lengah.”
Saat ini, peperangan Iran melawan Israel dan Amerika Serikat membuat lalu lintas Selat Hormuz terganggu.
Perairan itu menjadi jalur utama perdagangan komoditas migas negara-negara Teluk yang diketahui sebagai pemasok minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam dari harga sekitar US$60 dollar per barrel menjadi sekitar US$115 per barrel. I
