Provinsi Banten Tembus Delapan Besar Lumbung Beras Nasional

Provinsi Banten saat ini menempati peringkat delapan besar nasional dalam produksi beras.

Gubernur Banten Andra Soni mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut menempatkan Banten dalam kategori daerah dengan ketahanan pangan yang sangat tangguh berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan.

​Hal itu disampaikan saat menghadiri kegiatan Tanam Perdana Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian (Kementan) di Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

“Pada tahun 2025, luas panen padi di Provinsi Banten mencapai 345.421 hektare dengan total produksi mencapai 1,8 juta ton,” ujar Andra.

​Pencapaian tersebut mengukuhkan posisi Banten sebagai produsen padi terbesar kedelapan di tingkat nasional.

Prestasi ini juga sejalan dengan pencapaian Indeks Ketahanan Pangan Banten yang terus dipertahankan selama enam tahun berturut – turut.

​Andra berharap, program modernisasi pertanian dari Kementan dapat memacu pertumbuhan sektor pertanian di wilayahnya.

Terlebih, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, perikanandan kehutanan di Banten mencatatkan pertumbuhan tertinggi yang mencapai 9,60%.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten bersama dengan jajaran pemerintah kabupaten dan kota menegaskan komitmennya untuk mendukung transformasi Kementan demi menjaga ketahanan pangan.

​“Sistem pertanian modern ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan. Berdasarkan penelitian, hasil panen yang awalnya 3,25 ton hingga 4,5 ton per hektare bisa meningkat menjadi 5,1 hingga 7,5 ton per hektare. Bahkan, pada kondisi optimal, produktivitasnya dapat menembus 10 ton per hektare,” jelasnya.

​Selain itu, Andra menilai mekanisasi pertanian akan menekan biaya produksi dan pada akhirnya mendongkrak kesejahteraan petani.

Peningkatan produksi ini juga diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki sekitar 3,5 juta penerima manfaat di Banten.

​“Bisa dibayangkan, 85% kebutuhan program MBG berasal dari sektor pertanian dan peternakan. Mudah – mudahan potensi ini bisa kita manfaatkan. Apalagi saat ini perekonomian Banten tumbuh 5,37% dan Nilai Tukar Petani (NTP) juga mengalami kenaikan,” tuturnya.

​​Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementan Husnain menjelaskan bahwa sistem PM-AAS dikembangkan dari hasil kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke sentra pertanian padi di Arkansas, Amerika Serikat.

Sistem ini menerapkan metode tanam yang lebih rapat sehingga populasi padi menjadi lebih banyak. ​“Dengan populasi yang lebih banyak, hasil produksinya pun akan meningkat.”

Saat ini, Kementan melaksanakan program percontohan PM-AAS seluas 100 hektare di Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Penanaman ini merupakan tahap ketiga dari 15 lokasi percontohan yang tersebar di 14 provinsi.

Sebelumnya, program serupa telah dijalankan di Luwu (Sulawesi Selatan) dan Sukamandi (Subang, Jawa Barat).

​Kepala Wilayah Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Banten Andry Polos melaporkan bahwa PM-AAS adalah model pertanian modern berbasis teknologi tinggi yang mengedepankan efisiensi dan presisi.

Terdapat enam prinsip utama dalam PM-AAS, yaitu tanam rapat dalam baris, efisiensi sumber daya melalui digitalisasi, mekanisasi pertanian, operasi skala luas, intensifikasi produksi, dan pendekatan spesifik lokasi. ​“Target produksi kami adalah 10 ton per hektare.”

​Terkait dengan respons para petani, Andry menyebutkan adanya penerimaan yang sangat baik.

“Meski pada awal sosialisasi responsnya agak kurang, mereka pada akhirnya menerima dan mendukung penuh program ini,” ungkapnya.

​Dukungan tersebut diamini oleh Ketua Kelompok Tani (Poktan) Masyarakat Guyub 1 Andi Kamal.

Menurutnya, mekanisasi dan digitalisasi terbukti mampu memangkas biaya tanam dan perawatan.

Langkah ini juga menjadi solusi di tengah minimnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian dibandingkan dengan di perusahaan.

​“Ibu – ibu yang biasanya menanam sudah pada tua. Sekarang dengan adanya alat tanam, prosesnya lebih hemat. Kalau tanam manual oleh ibu-ibu, biayanya bisa mencapai Rp2 juta per hektare untuk 25 pekerja. Namun, dengan alat mesin, biayanya hanya sekitar Rp200.000 per hektare,” jelasnya.

​Sebagai informasi tambahan, percontohan PM-AAS di Banten dilaksanakan di empat titik seluas 100 hektare dan melibatkan empat kelompok tani dengan total 90 anggota.

Saat ini, produktivitas lahan tersebut berada di kisaran 6 ton per hektare hingga 6,5 ton per hektare dengan menggunakan benih padi varietas Inpari 32. I

 

 

 

Kirim Komentar