Sinergi Lintas Sektor Dorong Strategi Usaha Tangguh dan Adaptif Pascabencana NTB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan kegiatan dukungan pemasaran bagi kelompok masyarakat terdampak bencana pascagempa Lombok tahun 2018.

Peningkatan kapasitas ini berlangsung di Desa Wisata Taman Fantasi Pabar, yang terletak di Dusun Telagawareng, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

BNPB menegaskan upaya pemulihan pascabencana tidak hanya berhenti pada pembangunan kembali infrastruktur secara fisik, melainkan harus diukur dari pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat terdampak.

Menyadari hal tersebut, kegiatan dukungan pemasaran bertajuk Strategi Membangun Usaha yang Tangguh dan Adaptif terhadap Risiko Bencana bertujuan untuk membangun usaha yang tangguh, serta adaptif terhadap berbagai risiko demi keberlanjutan proses pemulihan ekonomi.

Selain itu, Direktur Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Hidup BNPB Luqmanul Hakim menyatakan, kegiatan ini juga memberikan pengetahuan untuk memperluas promosi, akses informasi dan jejaring pemasaran produk hasil pendampingan ekonomi.

“Ini merupakan upaya BNPB dalam memastikan hasil pendampingan ekonomi pascabencana tidak berhenti pada saat program selesai, tetapi mampu berlanjut menjadi usaha yang mandiri, berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Kegiatan ini merupakan komitmen jangka panjang dalam memastikan hasil pendampingan ekonomi tidak hanya sekadar program sementara, melainkan terus berlanjut menjadi usaha yang mandiri, berkembang dan memberikan manfaat kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Gempa bumi Lombok delapan tahun lalu memberikan guncangan besar terhadap aspek sosial dan perekonomian.

Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), petani, peternak dan nelayan yang harus kehilangan aset produksi, jaringan usaha, bahkan akses pasar mereka.

Meski berbagai program pendampingan untuk memperkuat kelompok usaha dan meningkatkan kapasitas produksi telah menuai hasil positif, sejumlah tantangan baru tetap membayangi para pelaku usaha.

Baca Juga:  BMKG Prediksi Rob di Pesisir Utara Jateng

Salah satu wilayah kabupaten yang terdampak parah dan menderita kerugian terbesar di antara kabupaten di NTB, yakni Kabupaten Lombok Utara.

Berdasarkan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, Kabupaten Lombok Utara menjadi wilayah dengan tingkat kerugian paling parah yang menyumbang sekitar 63% dari total nilai kerusakan dan kerugian di wilayah terdampak.

Kerusakan di kabupaten ini tercatat mencapai lebih dari Rp5,47 triliun dengan kerugian ekonomi mencapai Rp4,51 triliun, sehingga total keseluruhan mencapai angka Rp9,99 triliun.

Besarnya dampak tersebut mengakibatkan banyaknya pelaku usaha yang kehilangan aset operasional, sarana produksi hingga terputusnya jaringan distribusi dan akses pasar yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian masyarakat setempat.

Sementara itu, akses pasar yang masih terbatas, promosi produk yang belum optimal, kendala pada kemampuan pemasaran digital dan minimnya jejaring kemitraan merupakan hambatan nyata.

Oleh karena itu, keberhasilan pemulihan tidak hanya dilihat dari seberapa banyak produk yang dihasilkan, tetapi seberapa mampu bisnis tersebut bertahan dan beradaptasi dengan tantangan.

“Usaha yang tangguh adalah yang mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali saat menghadapi gangguan maupun bencana. Prinsip ini sejalan dengan konsep Build Back Better and Safer, kita membangun kondisi yang lebih baik, aman, dan berkelanjutan dibandingkan masa sebelum bencana,” tutur Lukmanul.

Guna membangun ketangguhan tersebut, para pelaku usaha didorong melakukan diversifikasi produk, meningkatkan kualitas, memperkuat kelembagaan kelompok, memanfaatkan teknologi digital, dan secara sadar menerapkan prinsip pengurangan risiko bencana dalam kegiatan usaha.

Dukungan pemasaran yang difasilitasi dalam kegiatan ini bukan sekadar ajang promosi, melainkan upaya konkret untuk mempertemukan produk – produk unggulan masyarakat dengan akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk penyintas bencana.

Baca Juga:  Laporan Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 27 April 2026

Sejauh ini, BNPB mencatat keberhasilan pendampingan yang dilakukan pascagempa tahun 2018.

Sejumlah UMKM bahkan dapat menembus pasar internasional. Beberapa contoh produk pendampingan ekonomi yang sudah masuk ke pasar mancanegara tersebut, antara lain black garlic ke Jepang dan king aren yang sudah diekspor ke Jerman, Prancis dan Korea Selatan.

Keberhasilan seluruh inisiatif sangat bergantung pada kolaborasi pentaheliks. Sinergi yang kuat antara DPR, pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan media menjadi syarat mutlak.

Perguruan tinggi seperti Universitas Mataram memegang peran sentral dalam riset, inovasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sedangkan pemerintah daerah diharapkan terus mengintegrasikan hasil pendampingan ini ke dalam agenda pembangunan daerah agar berkesinambungan.

Acara ini secara resmi dibuka dengan harapan bahwa seluruh pihak terus menjaga komitmen bersama, memperkuat koordinasi, dan terus berkolaborasi.

Pemulihan ekonomi yang berkelanjutan diyakini akan menjadi fondasi kuat yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB, tetapi juga secara signifikan mengurangi kerentanan terhadap ancaman bencana di masa mendatang.

Kegiatan strategis ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci dan pemangku kepentingan di antaranya anggota DPR Komisi VIII, Nanang Samodra, Wakil Rektor Universitas Mataram Prof. Sitti Hilyana, Kalaksa BPBD Provinsi NTB Sadimin, Tim Pelaksana Pendampingan Ekonomi dan Sosial Pascabencana NTB TA 2019, Kepala Desa Pemenang Barat, serta perwakilan masyarakat setempat. I

 

 

Kirim Komentar