SISTEM SUREBRO DAPAT TANGGULANGI KRISIS KEPARIWISATAAN DENGAN CEPAT DAN AKURAT

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno meyakini kehadiran sistem Surveilance, Response dan Broadcast (Surebro!) yang dikeluarkan oleh Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf mampu menanggulangi isu-isu yang memicu krisis kepariwisataan secara cepat dan akurat.

Menurutnya, bisnis pariwisata adalah bisnis reputasi yang dirasakan oleh wisatawan melalui persepsi penginderaan, sehingga ketika reputasi tersebut terganggu oleh suatu hal yang kurang sesuai dengan persepsi wisatawan, maka hal itu akan memicu terjadinya krisis kepariwisataan.

“Krisis reputasi adalah pintu awal ancaman krisis kepariwisataan. Jika ada berita buruk yang menimbulkan ketidakpastian dan kegelisahan seperti saat pandemi, ini harus segera kita atasi,” kata Sandiaga dalam webinar Sistem Terpadu Manajemen Komunikasi Krisis di Sektor Parekraf.

Salah satu upaya mencegah terjadinya krisis tersebut, lanjutnya, adalah komunikasi yang strategis yang mampu mengurangi dampak negatif dari krisis kepariwisataan dan meredam kegelisahan berbagai pihak, terutama wisatawan dan pelaku parekraf.

Untuk itu, kehadiran sistem Surebro! yang dikeluarkan oleh Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf diyakini mampu menanggulangi dampak dari krisis kepariwisataan seperti yang terjadi saat pandemi Covid-19.

“Ini tentunya akan memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas kementerian/lembaga dan narasi yang baik di tingkat pariwisata daerah sehingga (krisis) ini bisa ditangani bersama-sama,” jelasnya.

Sesmenparekraf/Sestama Baparekraf Ni Wayan Giri Adnyani menambahkan, sektor parekraf sangat rentan dipengaruhi oleh krisis yang bisa berdampak pada sisi ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan infrastruktur.

Oleh karena itu, katanya, perlu ada penanggulangan krisis yang holistik dengan mengedepankan komunikasi yang efektif yang melibatkan banyak elemen dan komponen.

Sebab, sistem terpadu manajemen komunikasi krisis ini tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan pemangku kepentingan parekraf serta dinas pariwisata dan kementerian/lembaga sebagai kontributor informasi resmi.

Baca Juga:  KEMENPAREKRAF DUKUNG BENTENG TOBALI JADI DESTINASI WISATA SEJARAH UNGGULAN

“Komunikasi yang efektif adalah salah satu sumber daya terpenting dalam mengelola krisis. Komunikasi harus dilakukan dalam semua tahapan krisis, yaitu sebelum, pada saat dan setelah krisis,” ungkapnya.

Melalui komunikasi krisis yang efektif, kita dapat memahami risiko yang dihadapi, memberikan informasi yang lebih lengkap, akurat dan cepat, serta meredam peredaran disinformasi dan misinformasi yang dapat memperburuk kondisi krisis.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf I Gusti Ayu Dewi Hendriyani menjelaskan, Sistem Manajamen Terpadu Komunikasi Krisis Surebro! adalah terobosan baru untuk organisasi Kemenparekraf yang memiliki lima nilai inovasi, yaitu terciptanya sistem manajemen yang terpadu, kebaharuan, penyesuaian pada struktur organisasi, berkelanjutan, dan sesuai dengan nilai-nilai organisasi Kemenparekraf.

Pemanfaatan sistem Surebro! dalam menanggulangi krisis kepariwisataan dilakukan melalui tiga langkah, yaitu:

  1. Surveilance, dengan melihat sentimen publik melalui Crisis Detection Analysis (CDA) dan media monitoring. Selanjutnya, potensi tersebut dikategorikan menjadi tiga dampak terhadap sektor parekraf, yaitu rendah (low), menengah (medium) dan tinggi (high).
  2. Response, dengan strategi asesmen risiko krisis, tindakan pada 15 menit, 30 menit dan satu jam pertama, serta tindakan ketika krisis berlanjut sampai pada penyiapan press release.
  3. Broadcast, dengan amplifikasi pada owned media dan paid media Kemenparekraf, Public Relation dan Forum Manajemen Krisis Parekraf daerah

Salah satu produk monitoring yang dimiliki pada komunikasi krisis adalah Crisis Detection Analysis. Jadi, ini adalah pemantauan kami terhadap isu-isu di sektor parekraf dan yang kami deteksi potensi krisisnya ke depannya,

“Kemudian, kami mitigasi sejak dini sebelum isu tersebut semakin besar dengan menyusun rekomendasi tindak lanjut manajemen komunikasi krisis dengan output, seperti standby statement, press release, infografis, maupun poster,” ungkap Dewi. I

Kirim Komentar