Skema SPPG Rp6 Juta per Hari Lebih Efisien dan Minim Risiko Negara

Menanggapi isu yang beredar bahwa kebijakan pemberian insentif fasilitas SPPG merupakan kebijakan pemborosan, Badan Gizi Nasional (BGN) tegaskan bahwa skema tersebut merupakan strategi yang efisien dan minin risiko negera bukan sebuah pemborosan.

Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan bahwa terdapat sejumlah prinsip mendasar dalam skema kemitraan tersebut.

Pertama, Rp6 juta per hari bukanlah dana pembangunan dari APBN, melainkan bagian dari mekanisme pembayaran layanan atas SPPG yang telah berjalan, apalagi seluruh proses pembangunan fisik dilakukan dengan investasi mandiri oleh mitra.

Kedua, seluruh risiko ditanggung sepenuhnya oleh mitra, mulai dari risiko pembangunan, pelaksanaan operasional, evaluasi, hingga risiko bencana alam.

Sebagai contoh, ketika salah satu SPPG di Aceh terdampak banjir hingga mengalami kerusakan, kerugian sepenuhnya menjadi tanggung jawab mitra dan bukan BGN, apalagi mitra wajib membangun kembali tanpa tambahan beban anggaran negara.

“Seperti di aceh ketika SPPG tersapu banjir maka yang rugi adalah mitra bukan BGN, mereka harus bangun lagi. Jadi kita memindahkan resiko total kepada mitra, makanya saya sampaikan Rp6 juta itu sangat efisien karena BGN tidak mengeluarkan satu rupiahpun untuk pemeliharaan, perbaikan dan lain – lain,” jelas Dadan pada Sosialisasi Regulasi Kepegawaian di lingkungan Badan Gizi Nasional.

Ketiga, pembangunan oleh mitra dipastikan berlangsung lebih efisien, karena tidak mungkin melaukan mark up untuk dirinya sendiri dan mitra akan membangun fasilitas seoptimal mungkin sesuai kebutuhan layanan.

Salah satu contoh adalah pembangunan SPPG oleh Persatuan Islam (Persis) yang dinilai sangat baik dengan nilai investasi sekitar Rp3 miliar.

“Saya liat kemaren SPPG yang dibangun oleh Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) itu sangat bagus sekali, itu dibangun dengan dana Rp3 miliar. Saya yakin kalau itu dibangun oleh dana APBN itu nilainya Rp6 miliar, jadi kita sudah 50% lebih efisien,” ungkap Dadan.

Keempat, aspek yang dinilai paling strategis adalah keunggulan dalam kecepatan waktu (the winning of time).

Melalui skema kemitraan, bangunan representatif dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua bulan.

Saat ini, BGN telah memiliki 24.122 SPPG yang seluruhnya dibangun melalui skema kemitraan dan telah beroperasi. Rata – rata pembangunan mencapai 50 SPPG per hari.

Capaian ini menjadi bukti bahwa pendekatan kemitraan mampu menghadirkan percepatan signifikan sekaligus menjaga efisiensi dan akuntabilitas anggaran.

Untuk itu, BGN menegaskan bahwa kebijakan insentif fasilitas SPPG Rp6 juta per hari bukanlah pemborosan, melainkan strategi untuk memastikan layanan pemenuhan gizi berjalan cepat, efisien dan meminimalkan risiko fiskal negara, dengan tetap menjunjung prinsip tata kelola yang baik. I

 

Kirim Komentar