Indonesia dinyatakan siap terkait ketersediaan pangan untuk mengantisipasi efek dari fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia yang berdampak pada berkurangnya curah hujan.
Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, pemerintah telah mempersiapkan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sejak dua tahun lalu.
“Insyaallah, kami sudah persiapkan 2 tahun sebelumnya mengantisipasi El Nino Godzilla. Stok kita banyak, masih melimpah. Cadangan Beras Pemerintah kita 4,5 juta ton. Jadi aman,” katanya.
Dalam catatan Bapanas, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini sudah tembus 4,55 juta ton dan mengalami peningkatan yang eksponensial hingga 200 persen dibandingkan Oktober pada dua tahun sebelumnya, yang stok CBP Indonesia berada di angka 1,51 juta ton pada Oktober 2023.
Adapun peningkatan stok CBP hingga 200% dalam rentang dua tahun tersebut sepenuhnya dihasilkan dari produksi beras dalam negeri, tetapi pemerintah turut memastikan daya serap gabah atau setara beras tidak menjadikan kalangan produsen dan penggilingan beras swasta tersisihkan.
Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa total proyeksi produksi beras nasional Januari – September 2026 dapat mencapai 28,39 juta ton.
Sementara itu, total serap pemerintah setara beras berkisar di 4,1 juta ton atau 14,4% saja terhadap produksi beras nasional. Selebihnya kalangan swasta masih dapat menyerap panenan gabah petani.
Kepala Bapanas Amran optimistis Indonesia dapat kembali mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan di tahun 2026, terlebih musim penghujan diharapkan akan kembali merambah di Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama.
“Sekarang sudah mulai hujan. Jakarta sudah mulai hujan. Sulawesi, Maluku juga. Tinggal dua bulan, Insyaallah di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo, Presiden kita yang kita cintai, akan mencapai swasembada berkelanjutan,” tuturnya.
Adapun menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan di November 2026 dapat terjadi pada 185 Zona Musim (ZOM) atau 24,66% wilayah dan pada Desember dapat meningkat menjadi 266 ZOM atau 17,31% wilayah.
Cakupan wilayah yang mengalami musim hujan mulai November di antaranya sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.
Kemudian, musim hujan bulan Desember dialami sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan (Kalsel), sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Malut, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.
Musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM (69,76% luas daratan Indonesia) dan perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55% luas daratan Indonesia), karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69%) diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, tidak hanya itu, BMKG juga melaporkan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami puncak musim hujan 2026/2027 pada Desember 2026, yaitu sebanyak 155 ZOM atau 36,94% dari luas daratan Indonesia.
Kemudian, pada Januari 2027 yaitu sebanyak 162 ZOM atau 25,68% dari luas daratan Indonesia dan pada Februari 2027 sekitar 190 ZOM atau 16,79% luas daratan Indonesia.
Lebih lanjut, Bapanas memastikan pula untuk stok CPP yang telah pemerintah perkuat sampai saat ini tidak hanya beras saja.
Stok CPP dalam bentuk jagung pakan masih terdapat sebanyak 84.000 ton. Selanjutnya, stok CPP dalam bentuk minyak goreng 26.000 kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food. CPP dalam bentuk daging ayam ada 39 ton di ID Food.
Khusus untuk komoditas yang sifatnya perishable atau mudah membusuk atau mudah rusak, seperti cabai, bawang merah dan telur ayam ras, pemerintah optimis mampu ditopang dari produksi pangan dalam negeri secara reguler.
Hal ini dikarenakan terdapat surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi yang cukup tinggi selama setahun ini. I
