Strategi percepatan dan simplifikasi kebijakan, terutama di daerah harus diupayakan dalam penguatan ekosistem halal lokal hingga nasional.
Menurut Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan, untuk mengejar ketertinggalan tersebut, ekosistem halal yang kuat dari berbagai negara, strategi simplifikasi dan percepatan penting.
“Maka dari itu, saya mendorong seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah agar berani mengambil terobosan dengan belajar dari keberhasilan sejumlah negara dalam implementasi nilai halal yang menurutnya cukup solid, seperti Tiongkok, Brasil dan Amerika Serikat,” katanya.
Dia menambahkan bahwa ketiga negara tersebut, sejak puluhan tahun yang lalu sudah memperhitungkan bahwa produk halal akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.
Keberhasilan ketiga negara tersebut, lanjut Haikal, tidak terlepas dari dinamika di tingkat global, dengan halal telah bertransformasi menjadi simbol peradaban modern.
“Bahkan, di sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Rusia, halal dimaknai sebagai standar double clean atau jaminan kebersihan ganda, elite food yang mencerminkan kualitas tinggi, serta sebagai bagian dari kepuasan pembeli (customer satisfaction),” jelasnya.
Dalam konteks ini, BPJPH terus mendorong berbagai program konkret di daerah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen halal global.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui akselerasi sertifikasi halal guna menjamin kehalalan dari sektor hulu ke hilir.
“Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia harus berdiri di kaki sendiri dan berdaulat secara ekonomi. Jangan sampai kita hanya menjadi pasar,” ujar Haikal.
Dia menilai, halal harus ditempatkan sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional (growth economic engine), bukan semata – mata dipahami sebagai kepatuhan regulasi dan keagamaan semata. I




