Swasembada pangan Indonesia diproyeksikan berlanjut pada 2026 seiring meningkatnya produksi dalam negeri.
Delapan komoditas pangan strategis termasuk beras telah mencapai swasembada dengan tiga komoditas sudah ekspor.
Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sendiri per 1 Juli 2026 berada di angka 5,17 juta ton.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan, capaian swasembada yang diraih pada akhir tahun 2025 menjadi pijakan kuat untuk mempertahankan swasembada pangan sepanjang tahun 2026.
“Alhamdulillah, tepat di akhir Desember 2025, kita mencapai swasembada tercepat dan stok tertinggi selama 25 tahun. Ini kita umumkan, stok kita ini tertinggi selama merdeka sampai hari ini. Dulu pernah tahun 1984, stok kita 2,6 juta ton. Sekarang 5,18 juta ton,” ungkapnya dalam Seminar P4N Lemhannas, di Jakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan realisasi produksi beras 2025 mencapai 34,7 juta ton atau tetap berada di atas capaian tahun sebelumnya.
Food and Agriculture Organization (FAO) pun mengestimasikan produksi beras Indonesia mencapai sekitar 35 juta ton, sedangkan United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksikan sebesar 34,6 juta ton.
Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan ASEAN dan kedua di dunia.
“Ini angka ini bukan saja dari BPS, tapi juga dari FAO. Jadi dari FAO mengatakan produksi kita 35 ton. BPS mengatakan kurang lebih 34,7 ton. Kemudian Amerika, United States Department of Agriculture, ini datanya juga 34,6 ton,” tutur Amran.
Dia meyakini peluang swasembada pangan berlanjut pada tahun 2026 mencapai lebih dari 90% dan mencakup berbagai komoditas pangan strategis, diantaranya beras, cabai besar, cabai rawit, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, serta bawang merah.
“Kemarin pengumuman BPS, sampai Agustus produksi kita naik dibanding tahun lalu. Mudah – mudahan September sampai Desember tidak ada bencana besar – besaran. Insyaa, hampir pasti tingkat kepastiannya di atas 90% swasembada berkelanjutan, yaitu Insyaallah 2026 sudah swasembada. Sejalan dengan swasembada, ini swasembada pangan dan beras,” tutur Amran.
Sesuai regulasi Perpres Nomor 125 Tahun 2022, yang ditangani Bapanas adalah 11 komoditas strategis, dengan rincian yang sudah swasembada adalah delapan komoditas dan tiga komoditas yang belum.
“Namun, dari total 3,5 juta ton kita impor dibagi dengan 68 juta ton kebutuhan atau 73 juta ton produksi, hanya 4% impor pangan, yang lainnya swasembada ekspor. Artinya apa? Sudah berada dalam definisi swasembada pangan dan swasembada beras,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Menko Zulhas) menyatakan, swasembada pangan menyokong kesejahteraan 170 juta petani Indonesia.
Komitmen swasembada tersebut diperkuat melalui penerbitan 16 regulasi sepanjang tahun 2025 sampai dengan tahun 2026.
“Jumlah petani kita 170 juta, kalau kita swasembada artinya ada pemberdayaan. Kalau kita impor yang untung yang luar, petani kita menderita. Itu yang terjadi selama 29 tahun. Kita harus sesuai dengan cita – cita Indonesia merdeka, Undang – Undang Dasar Pembukaan dan Pancasila. Diterbitkan kebijakan swasembada pangan,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, pemerintah terus meningkatkan keberpihakan kepada petani melalui penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah Rp6.500 per kilogram menjadi insentif agar petani memperoleh harga jual yang layak.
Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Syadzily menilai, keberhasilan swasembada menunjukkan arah kebijakan pangan nasional berjalan sesuai target pemerintah.
“Bapak Presiden Prabowo Subianto selalu memberikan arahan yang tegas terkait dengan ketahanan pangan ini. Kita patut bersyukur dan memberikan apresiasi setinggi – tinggi kepada pemerintahan Bapak Presiden Prabowo yang di dalamnya Pak Menko Pangan atas pencapaiannya swasembada beras yang telah diraih tahun 2025,” ujarnya.
Ace menyebutkan, capaian tersebut menjadi pencapaian bersejarah dalam pengelolaan pangan nasional.
“Sepanjang sejarah Indonesia ini merupakan pencapaian yang tertinggi. Indonesia tidak lagi impor beras untuk konsumsi umum. Stok Cadangan Beras Pemerintah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah hingga mencapai 4,2 juta ton,” jelasnya.
Optimisme terhadap keberlanjutan swasembada juga diperkuat oleh meningkatnya daya saing sektor pertanian nasional.
Pada tahun 2025, nilai ekspor produk pertanian segar dan olahan tercatat meningkat 28,26%, sedangkan nilai impornya turun 9,66% dibandingkan tahun sebelumnya. I
