Tradisi Blangikhan Lampung Bukti Pariwisata Tumbuh dari Akar Budaya

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengapresiasi penyelenggaraan Tradisi Blangikhan di Lampung Tengah sebagai wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari inisiatif masyarakat.

Menurutnya, tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu mendorong kesejahteraan ekonomi lokal melalui penguatan ekosistem pariwisata berbasis budaya dan spiritual.

Dalam sambutannya di Nuwo Balak, Lampung Tengah, Wamenpar menegaskan, pengembangan pariwisata berbasis budaya dan spiritual merupakan bagian integral dari strategi nasional pariwisata Indonesia.

“Budaya adalah napas dari pariwisata berkualitas, pariwisata yang berdaya saing, berkelanjutan dan berakar kuat pada identitas bangsa,” ujarnya.

Keterlibatan pengusaha UMKM dalam rangkaian kegiatan Blangikhan turut memperkuat dampak positif kegiatan ini.

Kehadiran produk-produk lokal dalam setiap perayaan budaya menjadi bukti bahwa tradisi mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat.

“Inilah wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari masyarakat, dikelola bersama, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan lokal,” tutur Wamenpar.

Tradisi Blangikhan atau yang juga dikenal sebagai Blangiran, merupakan kearifan lokal masyarakat Lampung berupa ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Prosesi ini dilakukan melalui penyiraman diri menggunakan air dari tujuh mata air sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.

Dilandasi nilai – nilai spiritual yang kuat, tradisi ini mengajak masyarakat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, memperkuat kesiapan mental dan spiritual, serta menata diri dalam menyambut ibadah Ramadan.

Pelaksanaan yang berlangsung secara turun-temurun ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan,” ungkap Wamenpar.

Baca Juga:  TAHUN 2022 JADI TITIK TOLAK KEBANGKITAN SEKTOR PAREKRAF NASIONAL

Penguatan tradisi dan budaya lokal sejalan dengan tren positif sektor pariwisata Indonesia sepanjang tahun 2025.

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tercatat mencapai 15,39 juta kunjungan, tumbuh 10,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,20 miliar perjalanan, meningkat 17,55%.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional juga terus menunjukkan dampak signifikan.

Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,11% dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp23.821 triliun.

Sektor pariwisata menyumbang sebesar 3,97% terhadap PDB nasional.

Jika memperhitungkan dampak lanjutan ke sektor – sektor terkait, total kontribusinya dapat mencapai 4,80% atau setara Rp946 triliun hingga Rp1.143 triliun.

Di tingkat global, kualitas pariwisata Indonesia semakin mendapat pengakuan.

Sepanjang tahun 2025, Indonesia meraih berbagai penghargaan pariwisata internasional.

Salah satunya adalah Desa Wisata Pemuteran, Buleleng, Bali yang ditetapkan sebagai salah satu desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism.

Capaian ini menegaskan bahwa daya saing pariwisata Indonesia bertumpu pada kekuatan budaya, tradisi dan nilai – nilai luhur bangsa.

“Kita dorong desa-desa wisata di Provinsi Lampung agar semakin berkualitas dan memiliki daya saing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” kata Wamenpar.

Dia juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan agar tradisi Blangikhan dapat dikembangkan sebagai agenda tahunan yang semakin berkualitas dan berkelanjutan.

Selain itu, potensi pariwisata lain di Provinsi Lampung diharapkan dapat teridentifikasi dan dikembangkan secara terintegrasi.

“Kementerian Pariwisata siap mendukung dan berkolaborasi untuk menciptakan pariwisata Indonesia yang lebih baik, lebih berkualitas dan lebih berkelanjutan,” katanya.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyatakan bahwa Provinsi Lampung saat ini menempati posisi ke-9 dalam daftar 10 wilayah dengan kontribusi kunjungan wisatawan terbanyak di Indonesia.

Baca Juga:  Pencarian Korban Hilang Bencana Longsor Banjarnegara Jadi Prioritas

Namun demikian, dia mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam membangun ekosistem pariwisata yang lebih optimal dan terintegrasi.

Pemerintah Provinsi Lampung berencana mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) guna menstimulasi masuknya investasi.

Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kawasan sekitar, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. I

Kirim Komentar