Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode Selasa (26/5) hingga Rabu (27/5), pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, telah terjadi sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi basah dan kering yang berdampak signifikan.
Kejadian bencana hidrometeorologi basah yang pertama dirangkum dari hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, yang melaporkan peristiwa banjir telah menerjang tiga desa di dua kecamatan pada Sabtu (23/5) pukul 20.20 WIB.
Tiga desa yang terdampak antara lain Desa Bojongsoang di Kecamatan Bojongsoang, Desa Dayeuhkolot dan Desa Citeureup di Kecamatan Dayeuhkolot.
Sebanyak 152 Kepala Keluarga (KK) atau 360 jiwa terdampak dan 75 di antaranya terpaksa mengungsi akibat kejadian ini.
Seluruh pengungsi ini berasal dari RW 05 dan RW 14 Desa Dayeuhkolot dan lokasi pengungsian berada di shelter desa.
Petugas gabungan dari beberapa instansi termasuk perangkat desa setempat diturunkan untuk mendata kebutuhan warga terdampak, dan upaya lain yang diperlukan selama penanganan darurat.
Kondisi Selasa (26/5), Tinggi Muka Air (TMA) di wilayah terdampak bervariasi antara 10 sentimeter (cm) hingga 120 cm.
Selanjutnya, kejadian banjir bandang dilaporkan oleh BPBD Gorontalo Utara pada Selasa (26/5) pukul 16.00 Wita.
Peristiwa tersebut dipicu oleh hujan lebat dengan durasi lama dan mengakibatkan meluapnya Sungai Didingga hingga mencapai ketinggian muka air 40 cm hingga 200 cm.
Banjir bandang itu menerjang lima desa di Kecamatan Biau, yakni Desa Biau, Bualo, Omuto, Didingga dan Luhuto. Warga sebanyak 529 KK dan akses jalan desa terdampak.
Sebagai upaya penanganan darurat, BPBD Kabupaten Gorontalo Utara diturunkan untuk melakukan asesmen, petugas juga membantu warga mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih aman.
Tidak ada laporan korban yang mengungsi dari kejadian ini. Adapun kondisi terkini, air mulai surut seiring curah hujan yang mulai menurun, tapi petugas tetap disiagakan untuk antisipasi banjir susulan.
Sementara itu, angin kencang dilaporkan terjadi di dua Desa di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada Selasa (26/5) pukul 13.30 Wita.
Peristiwa itu terjadi setelah cuaca ekstrem melanda Desa Benua Anyar Kecamatan Astambul dan Desa Pematang Baru Kecamatan Martapura Timur, hingga menyebabkan 11 unit rumah terdampak.
BPBD Kabupaten Banjar diturunkan untuk melakukan asesmen, berkoordinasi dengan dinas terkait dan memberikan bantuan logistik pada warga terdampak.
Kondisi terkini, cuaca cerah berawan dan rumah yang rusak masih dalam penanganan.
Selain bencana hidrometeorologi basah, terdapat dua laporan kejadian bencana hidrometeorlogi kering, yakni fenomena hari tanpa hujan (HTH) yang menyebabkan kekeringan di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Lhokseumawe Provinsi Aceh.
Dalam upaya penanganan darurat kekeringan di Kabupaten Bima, pemerintah daerah setempat melalui BPBD Kabupaten Bima bergerak cepat mendistribusikan air bersih di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Selasa (26/5), sejak pukul 12.30 Wita hingga pukul 18.30 Wita.
Prioritas distribusi air bersih ini diberikan kepada 299 KK atau 1.195 jiwa di Dusun Ndanondere dan Dusun Rasabou yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih setelah mesin pompa air yang selama ini dipakai untuk membantu pemenuhan kebutuhan air warga mengalami kerusakan.
Sebanyak 4 rit atau sekitar 20.000 liter air bersih telah disalurkan dan kini dirasakan seluruh warga tersebut.
Selain pendistribusian air bersih, BPBD Kabupaten Bima juga melakukan koordinasi dengan berbagai stakeholder terkait sosialisasi kesiapsiagaan terhadap potensi bencana pada masa peralihan musim dan melakukan diseminasi informasi kepada masyarakat terkait potensi bencana untuk ke depannya.
Berikutnya, peristiwa karhutla terjadi di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhoksemawe, Aceh pada Senin (25/5).
Titik api dilaporkan terdeteksi pada pukul 21.05. Petugas gabungan yang terdiri dari Damkar BPBD Regu B Kota Lhokseumawe, Tim Reaksi Cepat, TNI-Polri, relawan dan masyarakat segera bergerak ke lokasi kejadian.
Dua unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk mempercepat untuk melakukan pemadaman dan pendinginan lahan yang terbakar.
Jerih payah dan seluruh upaya petugas gabungan berhasil memadamkan api, tapi setidaknya dua hektare lahan habis terbakar. Hingga saat ini penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang.
Menjelang periode Juni 2026, sebagian wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau yang dapat memicu fenomena kekeringan.
Kelangkaan air bersih dan dampak lain seperti karhutla menjadi ancaman serius, sedangkan pada masa pancaroba (peralihan musim) sangat rentan terhadap cuaca ekstrem yang memicu hujan lebat dan angin kencang.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dan siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering.
Selalu pantau informasi cuaca, jaga kondisi tubuh, amankan lingkungan sekitar dari potensi bahaya, seperti ranting pohon yang lapuk, saluran air yang tersumbat dan menyiapkan tas siaga bencana untuk keluarga. I






