Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air per 9 Juni 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan kejadian bencana pada periode Senin hingga Selasa, 8 – 9 Juni 2026.

Kejadian bencana yang dilaporkan antara lain gempa bumi di Sulawesi Utara, banjir di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara dan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Aceh Barat, Aceh.

Laporan pertama yang diterima merupakan pemutakhiran data pascagempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Laut Sulawesi pada Senin (8/6).

Pada Selasa (9/6) pukul 09.00 WIB, gempa-gempa susulan berkekuatan kecil masih terjadi di wilayah terdampak.

Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan wilayah yang terdampak cukup signifikan. Sebanyak 1.160 jiwa yang sebelumnya dilaporkan mengungsi di rumah keluarga terdekat, sebagian telah kembali ke rumah masing – masing.

Pasokan listrik di Kabupaten Kepulauan Sangihe berangsur normal, kecuali di pulau – pulau terluar yang berada dekat dengan episentrum gempa.

Kerusakan bangunan di Kabupaten Kepulauan Sangihe terdata antara lain 54 unit rumah rusak berat, 21 unit rumah rusak sedang dan delapan unit rumah rusak ringan.

Selain itu, dua gereja, satu sekolah dan 1 unit rumah dinas guru juga mengalami kerusakan.

Dampak gempa di Kabupaten Kepulauan Talaud tercatat menyebabkan kerusakan pada 12 unit rumah, satu unit rumah sakit, dan satu gudang pelabuhan. Di wilayah ini sebanyak 12 Kepala Keluarga (KK) terdampak.

Sementara itu, di Kabupaten Minahasa Utara, gempa mengakibatkan kerusakan pada satu unit gedung GMIM 76 dan satu fasilitas pendidikan.

Beralih dari laporan pascagempa di Sulawesi Utara, BNPB juga menerima laporan kejadian banjir di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Pada Senin (8/6) pagi, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Langkat dan mengakibatkan banjir di Kelurahan Batang Serangan dan Desa Sei Bamban, Kecamatan Batang Serangan.

Baca Juga:  Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 15 Desember 2025

Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat, tinggi muka air berkisar antara 50 sentimeter (cm) hingga 80 cm.

Peristiwa ini berdampak pada 2.706 KK. Pada sore hari, genangan air dilaporkan berangsur surut.

Selanjutnya, dari Aceh Barat dilaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bubon yang terjadi pada Sabtu (30/5).

Hingga saat ini, api belum sepenuhnya padam dan masih dalam penanganan tim gabungan.

Total luas lahan yang terbakar di Kecamatan Bubon mencapai 20 hektare dan sekitar separuhnya telah berhasil dipadamkan.

Guna mengoptimalkan penanganan karhutla, BNPB mengerahkan satu armada helikopter water bombing yang telah beroperasi sejak Minggu (7/6).

BNPB mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang dapat dipicu oleh cuaca ekstrem selama masa peralihan musim, seperti angin kencang, hujan ekstrem, angin puting beliung, banjir dan gelombang tinggi.

Di samping itu, BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana vulkanologi, termasuk erupsi gunung api yang dapat terjadi sewaktu – waktu.

Pada Selasa (9/6), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status SIAGA pada empat gunung api di Indonesia, yaitu Gunung Merapi (Jawa Tengah), Gunung Lewotobi Laki-Laki (Flores Timur, Nusa Tenggara Timur), Gunung Awu (Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara), dan Gunung Semeru (Jawa Timur).

Masyarakat agar mematuhi rekomendasi otoritas terkait dengan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam radius kawasan rawan bencana yang telah ditetapkan dari pusat erupsi.

Masyarakat juga diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan serta senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan terpercaya, seperti BNPB, BPBD dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). I

Kirim Komentar