Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia telah membakar 107.000 hektare lahan.
Data tersebut diketahui setelah memimpin rapat koordinasi bersama kementerian dan lembaga terkait di Kemenko Polkam, Jakarta.
“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107.000 hektar lebih,” ungkapnya.
Peristiwa ini terjadi di tengah fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga September atau Oktober 2026.
Dalam hal ini, pemerintah mewaspadai enam provinsi yang disebut rawan terjadi karhutla, yakni Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau.
Djamari melaporkan, sejauh ini pemerintah telah mengerahkan 43 helikopter dan 15 pesawat fixed wing untuk menanggulangi karhutla tersebut.
Penanganan melalui operasi darat tetap dilakukan, terutama karena ketersediaan air di sejumlah lokasi mulai terbatas.
Pemerintah menyiapkan sejumlah alternatif, seperti penggunaan flexible tank untuk menampung dan mendistribusikan air.
“Kita masih punya menggunakan flexible tank yang bisa kita bawa, kita kedepankan, kita mundur dan flexible tank nanti diisi air,” jelasnya.
Pemerintah juga mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi karhutla.
Djamari menyampaikan, operasi udara menjadi salah satu cara paling efektif untuk menangani karhutla.
Namun, OMC hanya dapat dilakukan jika terdapat awan hujan yang dapat disemai.
“Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan,” katanya.
Oleh karena itu, pemerintah tengah memantau sambil menunggu titik-titik awan hujan.
“Berdasarkan perkiraan sekarang ini, pada minggu ini sampai dengan 18 Agustus, itu ada tiga atau empat hari, kemungkinan awan hujan ada,” jelasnya.
“Kalau itu ada, itu memang mungkin anugerah yang diberikan kepada kita. Mungkin menjelang 17 Agustus ini akan keluar awan hujan,” tuturnya.
Bukan hanya itu, pemerintah juga akan menyiram timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mencegah kebakaran di tengah fenomena El Nino.
“Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan itu adalah di TPA itu selalu dibasahi agar tidak terbakar,” kata Djamari.
Selain itu, pengawasan diperketat agar tidak ada yang membuang puntung rokok di sekitar TPA.
“Apabila itu terbakar, seperti kita semua tahu bahwa ada gas metan yang cukup berbahaya buat kesehatan kita semua,” ungkapnya.
Djamari menegaskan, kebijakan mencopot kapolda hingga pangdam yang gagal menangani karhutla masih berlaku hingga saat ini.
Kebijakan tersebut sebelumnya pernah ditampilkan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2015 dan tahun 2019.
Djamari mengaku kerap kali menekankan kebijakan tersebut saat berkeliling ke sejumlah daerah.
“Saya tekankan itu kebijakan pencopotan. Keberhasilan anda mengendalikan karhutla tadi adalah bagaimana karier anda ke depan,” jelasnya. I







