Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat inflasi Kota Yogyakarta pada bulan Mei 2026 masih berada dalam rentang target nasional.
Secara bulanan (month-to-month/mtm) terjadi inflasi sebesar 0,20%, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,99% dan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 1,10%.
Kepala BPS Kota Yogyakarta Joko Prayitno menjelaskan bahwa kondisi inflasi saat ini masih relatif terkendali karena berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5% hingga ± 1% atau berada pada rentang 1,5% sampai dengan 3,5%.
“Kalau dilihat secara kumulatif sampai bulan kelima tahun ini inflasi mencapai 1,10%, sedangkan inflasi tahunan sebesar 2,99% masih berada dalam rentang target pemerintah, sehingga relatif masih terkendali,” jelasnya.
Menurut Joko, penyumbang utama inflasi bulanan pada Mei 2026 berasal dari kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,22%.
Kenaikan harga pada kelompok ini dipicu oleh meningkatnya biaya transportasi udara akibat penambahan biaya bahan bakar, kenaikan harga BBM nonsubsidi, seperti Pertamax Turbo, solar dan pelumas atau oli mesin.
“Kalau dari sisi month-to-month, pemicu inflasi lebih banyak berasal dari sektor transportasi. Ada kenaikan biaya tambahan pada angkutan udara, kemudian harga BBM nonsubsidi dan pelumas yang ikut naik,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk inflasi tahunan sebesar 2,99%, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,01%. Komoditas emas perhiasan menjadi faktor utama karena secara tahunan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.
“Secara month-to-month harga emas memang mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, harga emas masih meningkat cukup signifikan sehingga memberikan andil inflasi sebesar 1,01%,” jelasnya.
Selain kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga memberikan andil inflasi cukup besar yakni sebesar 0,79%.
Dia menambahkan, menjelang tahun ajaran baru pada Juli mendatang, BPS memperkirakan sejumlah komponen pendidikan berpotensi memberikan tekanan inflasi, di antaranya biaya sekolah, perlengkapan sekolah, buku, alat tulis hingga kebutuhan penunjang pendidikan lainnya.
“Kami akan terus memantau perkembangan harga komoditas yang biasanya meningkat saat tahun ajaran baru, terutama perlengkapan sekolah dan kebutuhan pendidikan,” tuturnya.
Di sisi lain, Joko menilai pelemahan nilai tukar rupiah juga memiliki dampak terhadap inflasi daerah, terutama pada komoditas yang bergantung pada bahan baku impor.
Dampak tersebut sudah mulai terlihat pada kenaikan biaya transportasi dan produk turunannya.
Selain merilis perkembangan inflasi, BPS Kota Yogyakarta juga mencatat peningkatan kinerja sektor pariwisata pada April 2026.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang mencapai 55,36% atau naik 14,12 poin dibandingkan dengan Maret 2026.
Secara tahunan, TPK hotel berbintang juga meningkat 1,37 poin dibandingkan dengan April 2025.
Sementara itu, rata – rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel berbintang pada April 2026 mencapai 1,60 malam atau naik 0,10 malam dibanding bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan juga terjadi pada wisatawan mancanegara. Di hotel berbintang, rata-rata lama menginap tamu asing meningkat dari 1,77 malam pada Maret menjadi 2,22 malam pada April 2026, sedangkan di hotel nonbintang naik dari 1,72 malam menjadi 1,82 malam.
Menurut Joko, peningkatan tingkat hunian dan lama menginap wisatawan menunjukkan kondisi pariwisata Kota Yogyakarta yang terus membaik.
“Khusus wisatawan mancanegara, rata – rata lama menginap mengalami peningkatan baik di hotel berbintang maupun nonbintang. Ini menunjukkan daya tarik Yogyakarta bagi wisatawan asing masih cukup kuat,” katanya.
BPS juga mencatat komposisi tamu hotel di Kota Yogyakarta pada April 2026 terdiri atas 3,64% tamu asing dan 96,36% tamu domestik.
Kondisi ini menunjukkan pasar wisatawan nusantara masih menjadi penopang utama sektor pariwisata Kota Yogyakarta.
Joko menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menjadi peluang bagi sektor pariwisata, karena wisman memiliki daya beli yang relatif lebih tinggi saat berkunjung ke Indonesia.
“Dari sisi pariwisata tentu ada peluang. Wisatawan asing bisa merasa nilai uang yang dibawanya lebih tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan pengeluaran selama berada di Kota Yogyakarta,” ujarnya. I





