KEMENPAREKRAF SIAPKAN PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PELAKU EKRAF RUMAH TENUN IKAT SEKOMANDI

Menparekraf/Kabaparekraf Sandiaga Salahuddin Uno memberikan program pelatihan dan pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif di Rumah Tenun Sekomandi Mamuju, Sulawesi Barat, 7 Juli 2022. (dok. kemenparekraf.go.id)
Bagikan Artikel

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menyatakan kesiapannya untuk memberikan program pelatihan dan pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif di Rumah Tenun Sekomandi Mamuju Sulbar sebagai bagian dari Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meninjau dan menginisiasi agar Rumah Tenun Sekomandi Sekomandi bisa digunakan untuk aktivitas harian masyarakat, sebagai bentuk penghargaan kepada produk lokal.

“Alangkah baiknya kalau kita bantu untuk terus promosikan, karena ekspor dari produk ekonomi kreatif kita tembus US$21,8 miliar tahun lalu,” ujarnya saat berada di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (14/7/2022).

Pada tahun ini, Sandiaga menambahkan, diharapkan dengan bantuan semua pihak, termasuk bantuan perbankan, Kemenparekraf bisa memasukkan Rumah Tenun Ikat Sekomandi ini dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia.

“Jadi, nanti ke depan baju hari Kamis-nya Pak Gubernur ini mungkin diselipkan ada ornamen Sekomandi. Ini sebagai bagian dari penghargaan kita kepada produk produk tenun lokal kita,” katanya.

Tenun Sekomandi sendiri merupakan salah satu warisan leluhur masyarakat Kalumpang-Mamuju, yang diyakini sebagai salah satu tenun tertua di dunia, dengan rentang usia 480 tahun lebih dan memiliki arti spiritual di setiap corak dan warna benang yang digunakan.

Motif tenun Sekomandi yang paling popular ialah motif “Ulu Karua”. Motif ini bermakna delapan ketua adat atau delapan pemangku adat.

Menurut sejarah atau mitosnya, penamaan “Ulu Kalua” berasal dari sejak zaman dahulu, saat nenek moyang mereka pergi berburu dengan anjingnya, lalu masuk ke dalam gua.

Ketika keluar gua, anjing itu menggigit daun bermotif. Itulah asal mula motif pertama Sekomandi, Ulu Karua. Proses pembuatannya pun cukup unik.

Tenun Sekomandi berasal dari kulit kayu yang diproses dengan cara ditumbuk, lalu diolah untuk dipintal.

Selanjutnya, bahan tersebut diberi pewarna alami, seperti tanaman cabai yang terlebih dahulu diracik, kemudian dicampurkan dengan pewarna lainnya untuk memperindah kain tenun Sekomandi.

Untuk warnanya, kain tenun Sekomandi didominasi oleh warna cokelat merah dan krem, dengan warna dasar hitam.

Pembuatan sehelai kain tenun Sekomandi bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Menparekraf Sandiaga berharap Tenun Ikat Sekomandi Ulu Karua bisa menjadi inspirasi bagi pelaku ekonomi kreatif lainnya untuk terus melahirkan inovasi dan kreativitas baru dalam menghadirkan produk lokal unggulan, terutama produk yang menggunakan kain khas daerahnya. I

 

Kirim Komentar

Bagikan Artikel