LO G20 HARUS JADI DUTA KEARIFAN LOKAL BALI

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan industri pariwisatanya yang cukup terpandang di dunia, terutama Bali dengan keindahan alamnya dan juga kekayaan tradisi, budaya, sifat ramah tamah masyarakat, serta kearifan lokalnya yang unik.

Salah satu falsafah hidup yang dipegang teguh oleh masyarakat Bali adalah Tri Hita Karana yang merupakan konsep dan ajaran dalam agama Hindu yang memiliki tiga subsistem utama, yaitu Parhyangan, Pawongan dan Palemahan.

Parhyangan merupakan hubungan manusia dengan Tuhan dapat diartikan sama dengan pola pikir/konsep/nilai.

Pawongan yang artinya hubungan manusia dengan sesamanya sebagai elemen sosial. Kemudian, Palemahan adalah hubungan manusia dengan alam sekitar sama dengan elemen artefak.

Ajaran ini juga menitikberatkan pada cara sesama bisa hidup berdampingan, saling bertegur sapa satu dengan yang lain, tidak ada riak-riak kebencian, penuh toleransi, dan penuh rasa damai.

Untuk itu, hal ini perlu diimplementasikan oleh seluruh masyarakat Bali, terutama bagi yang terlibat dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang bertugas sebagai Liaison Officer (LO) atau petugas penghubung yang melayani perwakilan dari negara-negara anggota G20.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meminta agar 15 orang mahasiswa yang yang bertugas dalam rangkaian acara KTT G20 menerapkan konsep Tri Hita Karana dalam menjalankan tugasnya sebagai LO.

“Inilah konsep yang dikembangkan dalam pemikiran Poltekpar Bali dan para mahasiswa ini juga harus menunjukkan kearifan budaya local, serta menyampaikan hal-hal yang informatif dan edukatif terkait pariwisata Bali,” katanya dalam pembekalan LO G20 Mahasiswa Poltekpar Bali di Gedung I Gede Ardika Poltekpar Bali, Minggu (13/11/2022).

Konsep Tri Hita Karana yang dikembangkan oleh Pak I Gede Ardika ini adalah cara memiliki hubungan yang baik kepada Sang Pencipta, dengan sesama manusia dan memberikan kontribusi yang positif kepada keberlanjutan lingkungan, menjaga kelestarian alam dan budaya yang harus kita utamakan.

Baca Juga:  KEMENPAREKRAF BAHAS KUALITAS SDM PARIWISATA DI FORUM NTOs

Sandiaga juga berpesan agar para mahasiswa yang bertugas memperlihatkan sikap keramahtamahan khas masyarakat Bali yang selama ini menjadi citra dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

Keramahtamahan ini tentu saja ditunjang dengan kemampuan berbahasa asing yang baik dan memadai bagi ke-15 mahasiswa yang bertugas pada 14-16 November 2022.

“Kalian harus menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan kelas dunia kalau berbicara tentang hospitality,” jelasnya.

Menurut Sandiaga, budaya Indonesia itu budaya ramah tamah, sehingga jangan pasif dan harus selalu aktif bertanya apa yang bisa dibantu. “Jadi kita harus menampilkan keramahtamahan yang sudah menjadi trademark dari Bali.”

Melalui penerapan konsep ini dalam menjalankan tugas, hal ini diharapkan bisa menjadi cerminan bahwa Bali ingin mengajak dunia untuk pulih bersama, untuk bangkit lebih kuat dengan bergotong royong. I

 

 

Kirim Komentar