Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta resmi meluncurkan logo, tema, dan rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-270 Kota Yogyakarta melalui prosesi Wiwitan yang digelar di Pasar Beringharjo, baru – baru ini.
Mengusung tema Otentik Konkret, peringatan HUT tahun ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi menjadi momentum memperkuat jati diri kota sekaligus menghadirkan aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Peluncuran ini dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang didampingi Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan dan Sekda Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori.
Wali Kota Hasto mengatakan, prosesi Wiwitan dipilih sebagai pembuka rangkaian HUT Kota Yogyakarta karena memiliki makna filosofis yang mendalam dalam tradisi Jawa.
Wiwitan merupakan simbol memulai sesuatu dengan doa, rasa syukur, ketulusan dan harapan agar seluruh rangkaian kegiatan membawa keberkahan dan manfaat bagi masyarakat.
“Perjalanan menuju Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta kita awali dengan memohon tuntunan Tuhan, kemudian kita lanjutkan dengan kerja bersama,” ujarnya.
Menurut Hasto, dipilihnya Pasar Beringharjo sebagai lokasi peluncuran bukan tanpa alasan.
Pasar tertua di Kota Yogyakarta tersebut merupakan ruang kehidupan masyarakat yang paling otentik.
Di tempat itu masyarakat bertemu, bekerja, berdagang, saling membantu, sekaligus menggerakkan roda perekonomian rakyat.
Sebagai bentuk keberpihakan terhadap pelaku usaha lokal, seluruh kebutuhan kegiatan mulai dari konsumsi, dekorasi hingga berbagai perlengkapan pendukung diupayakan berasal dari para pedagang Pasar Beringharjo.
Langkah tersebut menjadi wujud nyata dukungan Pemkot Yogyakarta terhadap pelaku ekonomi riil, sekaligus memperkuat perputaran ekonomi lokal.
Pada kesempatan itu, Hasto juga memperkenalkan logo dan tema HUT Ke-270 Kota Yogyakarta, yakni Otentik Konkret.
Menurutnya, kata otentik mencerminkan jati diri Kota Yogyakarta yang dibangun melalui sejarah, tradisi, tata nilai, kreativitas, keramahan, dan semangat kebersamaan yang telah mengakar selama ratusan tahun.
Sementara itu, kata konkret bermakna bahwa kecintaan terhadap Jogja harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Bentuknya dapat berupa menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi rakyat, meningkatkan pelayanan publik, melestarikan budaya hingga menumbuhkan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari – hari.
Sebagai wujud nyata dari semangat tersebut, Pemkot Yogyakarta juga menggelar kegiatan kerja bakti massal yang disebar di 270 titik wilayah kota.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk perluasan dari rutinitas mingguan yang selama ini sudah berjalan di lingkup pemerintahan.
“Tiap Jumat kami ada curve kerja bakti dari jam 07.00 sampai 08.30WIB melibatkan seluruh ASN, absen mereka di titik kerja bakti,” jelas Hasto.
Dia menegaskan bahwa angka 270 pada logo HUT tidak sekadar menjadi simbol usia kota, tetapi harus hidup melalui ratusan ruang kebersamaan, gerakan kepedulian dan ribuan tangan masyarakat yang bekerja bersama menjaga, serta membangun Kota Yogyakarta.
Hasto pun juga mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Yogyakarta untuk lebih aktif hadir di tengah masyarakat.
“ASN kami minta tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi turun langsung mendengarkan aspirasi warga, memahami persoalan di lingkungan dan menghadirkan solusi melalui kerja nyata,” ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan kerja bakti menjadi salah satu ruang srawung yang mampu mempertemukan pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, komunitas, maupun pelaku usaha dalam kedudukan yang setara sebagai warga Kota Yogyakarta.
Melalui semangat gotong royong tersebut, berbagai persoalan di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama-sama.
Sebagai informasi rangkaian peringatan HUT Ke-270 Kota Yogyakarta akan berlangsung selama dua bulan, mulai 7 Agustus hingga 7 Oktober 2026.
Selama periode tersebut, sekitar 120 kegiatan akan diselenggarakan oleh perangkat daerah, wilayah, satuan pendidikan, komunitas hingga berbagai unsur masyarakat.
Beragam agenda telah disiapkan untuk memeriahkan peringatan tersebut, di antaranya Kotabaru Heritage Film Festival, Festival Kabudayan Yogyakarta, Gemati Pasar Jogja, Festival Sastra Yogyakarta, Festival Prawirotaman, Batik Day, Bakpia Day, Malioboro Day, dan berbagai kegiatan lainnya.
Seluruh rangkaian itu akan mencapai puncaknya melalui penyelenggaraan Wayang Jogja Night Carnival pada 7 Oktober 2026.
Hasto berharap seluruh kegiatan dalam rangka HUT Ke-270 mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, setiap agenda harus membuka ruang partisipasi bagi pelaku UMKM, seniman, komunitas, generasi muda, kelompok rentan, hingga masyarakat di kampung – kampung.
“Perayaan ini harus menggerakkan ekonomi, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kebanggaan sebagai warga Jogja,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekda Kota Yogyakarta Budi Santoso Asrori menilai bahwa durasi peringatan HUT yang cukup panjang ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi sektor pariwisata.
Menurutnya, rangkaian kegiatan yang masif ini berfungsi strategis sebagai sarana promosi kota.
“Durasi peringatan memang cukup panjang, menjadi salah satu event menarik wisatawan. Paling tidak sebagai branding wisata di Kota Jogja dan WJNC kembali dihadirkan setelah tahun lalu off,” jelasnya. I







