Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Sabtu (1/8), pukul 07.00 WIB hingga Minggu (2/8), pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan data yang dihimpun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah selama musim kemarau.
Kejadian karhutla yang pertama terjadi di wilayah Desa Taddakong, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Sabtu (1/8) sekitar pukul 19.00 WITA.
Peristiwa diduga dipicu oleh kondisi daun dan ranting kering di kawasan perbukitan berbatu yang mudah terbakar akibat suhu panas, sehingga memunculkan titik api secara tiba – tiba.
Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 5 hektare.
Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Pinrang segera melakukan asesmen dan pendataan di lokasi terdampak dan mendokumentasikan perkembangan penanganan di lapangan.
Upaya pemadaman dibantu Dinas Pemadam Kebakaran bersama masyarakat setempat.
Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Pinrang bersama unsur TNI, Polri dan masyarakat melakukan pemadaman melalui metode fire breaking atau pembuatan sekat bakar dengan mengisolasi vegetasi di sekitar titik api guna mencegah penyebaran kebakaran ke area yang lebih luas.
Berikutnya di Provinsi Jawa Tengah, BNPB juga menerima laporan kejadian karhutla yang terjadi di Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Desa Gemantar, Kecamatan Selogiri.
Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan oleh pihak terkait.
Peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar empat hektare.
Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Wonogiri segera melakukan asesmen cepat di lokasi terdampak sekaligus melaksanakan upaya pemadaman api.
Berdasarkan kondisi mutakhir pada Sabtu (1/8), api telah berhasil dipadamkan, sehingga tidak lagi mengancam area di sekitarnya.
Sementara itu, berkurangnya curah hujan menyebabkan sejumlah sumber air bersih di wilayah Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah mulai mengering sehingga masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.
BPBD Kabupaten Banyumas bersama pemerintah desa, unsur kemanusiaan dan masyarakat terus melakukan upaya pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.
Adapun kebutuhan mendesak saat ini meliputi pasokan air bersih dan penampungan air.
Berdasarkan laporan terkini hingga Sabtu (1/8) pukul 23.00 WIB, BPBD Kabupaten Banyumas telah mendistribusikan sebanyak 27.000 liter air bersih atau setara lima tangki ke sejumlah wilayah terdampak.
Distribusi air bersih dilakukan ke Grumbul Tembelang, Desa Sudimara, Kecamatan Cilongok sebanyak 4.000 liter yang bersumber dari Perumda Pabuwaran.
Selanjutnya, distribusi juga dilakukan ke Pondok Pesantren Hidayatul Kholil dan Pondok Pesantren An Najah di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok sebanyak 8.000 liter dari Perumda Tonjong Ajibarang.
Selain itu, BPBD menyalurkan 5.000 liter air bersih ke Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok yang bersumber dari Hydrant Karangbawang, 5.000 liter ke Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang dari PDAM Tonjong, serta 5.000 liter ke Desa Cipete, Kecamatan Cilongok yang juga berasal dari PDAM Tonjong.
BNPB mengapresiasi langkah cepat pemerintah daerah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kekeringan.
Selain itu, BNPB juga mengimbau pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan kondisi di lapangan, mengoptimalkan distribusi air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air dan mengedukasi masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Masyarakat diharapkan segera melaporkan kepada pemerintah desa atau BPBD apabila wilayahnya mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih, sehingga bantuan dapat disalurkan secara cepat dan tepat sasaran.
Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan pembakaran terbuka maupun aktivitas lain yang dapat memicu munculnya titik api serta segera melaporkan kepada BPBD atau instansi terkait apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif. I







