Vinsensius Jemadu Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I Kemenparekraf. (Istimewa)
Bagikan Artikel

Menjadi tugas utamanya adalah untuk memasarkan Indonesia melalui sektor pariwisata. Jadi, dia siap keliling dunia untuk promosikan keindahan Tanah Air tercinta.

Direktur Pemasaran I Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ini bekerja keras mendorong pariwisata Indonesia agar tidak hanya dikenal masyarakat dunia, tapi juga dikunjungi wisatawan mancanegara.

Pria asli Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini piawai mempromosikan Indonesia di pasar China dan Australia, tapi untuk pasar Amerika dan Eropa pun dia pandai memasarkan.

Untuk mendorong pariwisata nusantara saat pandemi ini, Vinsensius menilai potensi penduduk Indonesia sekitar 260 juta jiwa ini mampu digerakkan untuk memulihkan sektor pariwisata.

Namun, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menilai upaya mendorong masyarakat dan pelaku pariwisata untuk kembali berwisata tetap harus menerapkan protokol Kesehatan.

Vinsensius menuturkan bahwa prinsip Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) menjadi pedoman.

“Ini khususnya untuk mendorong kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut, Vinsensius menambahkan, pandemi Covid-19 ini membuat masyarakat mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Bahkan, lanjutnya, juga akan mengubah perilaku wisatawan dimana diperkirakan ke depannya preferensi pariwisata akan banyak berhubungan dengan alam, kesehatan juga kebersihan.

Selain itu, Vinsensius menyatakan bahwa pengelola destinasi wisata juga memperhatikan tiga poin sinergi.

Ketiga poin yang dimaksud adalah pariwisata, lingkungan, dan keterlibatan masyarakat.

“Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengkombinasikan antara tourism, environment, dan keterlibatan masyarakat, sehingga konsep community base tourism menjadi nyata,” ujarnya.

Sejauh ini, Vinsensius menilai, belum banyak anak muda yang memiliki pemikiran visioner untuk membangun global tourism.

Bahkan, lanjutnya, sosialisasi tentang global tourism masih sangat minim di Tanah Air. “Tren dari global tourism adalah community development, dan rural development,” katanya.

Namun menariknya, dia menuturkan, tren global tourism kini mengarah pada kesederhanaan, sehingga banyak sekali destinasi yang kini dibangun dari cipta, rasa, dan karsa masyarakat yang justru mempertahankan kesahajaan dan kearifan lokal. I

 

 


Bagikan Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here