Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan rencana kerja Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun 2026 dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR, yang dipimpin oleh Ketua Komisi VII DPR Saleh P. Daulay.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga kinerja sektor pariwisata tetap solid, meskipun menghadapi tantangan global yang dinamis.
Dalam paparannya, Menpar menjelaskan bahwa program prioritas Kemenpar tahun 2026 diarahkan pada penguatan pariwisata berkualitas yang aman, berkelanjutan dan berdampak pada ekonomi masyarakat.
Salah satu fokus utama adalah peningkatan keselamatan berwisata melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi bagi pemandu wisata, penyusunan pedoman keselamatan destinasi hingga pemetaan kawasan wisata rawan bencana.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat pengembangan lebih dari 6.200 desa wisata melalui pendampingan masyarakat, sertifikasi desa wisata dan penguatan jejaring ekonomi lokal berbasis pariwisata.
Pariwisata berkualitas akan terus diperkuat dengan terus melanjutkan program Wonderful Indonesia Gastronomi, Wonderful Indonesia Wellness, Event by Indonesia dan pengembangan digitalisasi pariwisata Indonesia melalui program Tourism 5.0 yang sudah dimulai sejak tahun 2025.
Di tengah upaya penguatan program tersebut, sektor pariwisata global saat ini menghadapi dampak dari konflik di Timur Tengah (Timteng).
Penutupan wilayah udara Iran pada periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026 menyebabkan gangguan penerbangan dari enam hub utama penerbangan internasional, Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat, yang berkontribusi pada pembatalan sekitar 770 penerbangan menuju Jakarta, Bali, serta Medan.
Situasi ini diperkirakan menyebabkan potensi kehilangan sekitar 60.000 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dengan potensi devisa yang tidak terealisasi mencapai sekitar Rp2,04 triliun.
“Dinamika geopolitik global tentu memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata. Namun kami terus melakukan langkah – langkah mitigasi agar target kinerja pariwisata nasional tetap terjaga,” ujar Menpar.
Tekanan terhadap sektor pariwisata juga muncul dari kenaikan harga energi global. Harga minyak mentah dunia meningkat lebih dari 52%, dari sekitar US$67 per barel menjadi lebih dari US$102 per barel dalam kurun waktu satu bulan.
Kondisi ini memicu kenaikan biaya transportasi melalui penerapan fuel surcharge oleh berbagai maskapai internasional serta peningkatan tarif moda transportasi lintas negara.
Menghadapi situasi tersebut, Kempar telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi untuk menjaga pencapaian target 16 uta kunjungan wisman hingga 17,6 juta kunjungan wisman pada tahun 2026.
Strategi tersebut antara lain melakukan pivot pasar ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan pasar medium-haul, memperkuat kampanye digital internasional, serta mengoptimalkan kerja sama dengan maskapai yang memiliki rute langsung ke Eropa dan Amerika Serikat.
Pemerintah juga mendorong penyelenggaraan event lintas batas di kawasan perbatasan serta memperkuat promosi wisata nusantara (wisnus) guna menjaga tingkat hunian destinasi wisata di dalam negeri.
“Di tengah tekanan global, kita perlu bergerak lebih adaptif. Diversifikasi pasar, penguatan promosi, dan optimalisasi wisata nusantara menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi nasional,” jelas Menpar.
Dia menegaskan bahwa pencapaian target kinerja pariwisata nasional membutuhkan dukungan lintas kementerian dan lembaga.
Pemerintah mendorong sejumlah langkah strategis, seperti pemberian insentif penerbangan yang relevan, kebijakan bebas visa kunjungan, penambahan kapasitas kursi penerbangan dan penguatan anggaran promosi pariwisata agar Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan global.
“Kami percaya bahwa dengan kolaborasi seluruh kementerian dan lembaga, serta dukungan DPR, sektor pariwisata Indonesia akan tetap tangguh dan mampu menjaga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Komisi VII DPR Saleh Daulay mengapresiasi strategi mitigasi yang disiapkan Kemenpar dalam menghadapi perkembangan dinamika global.
Di sisi lain, Komisi VII DPR meminta penguatan konektivitas dan pergerakan wisatawan nusantara di tengah situasi ketidakpastian global pada saat ini.
Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PDIP Putra Nababan meminta Kemenpar untuk mempelajari pola shifting akibat perubahan strategi ini, karena ada perbedaan behaviour antara wisatawan yang long haul (Eropa dan Amerika) dan medium haul (Asia Timur dan Asia Selatan), serta short haul (ASEAN).
Putra secara spesifik meminta pemerintah segera memberikan bebas visa, terutama untuk wisatawan Tiongkok dan Australia agar shifting strategi Kemenpar ini menjadi kebijakan nasional.
“Jangan ada ego sektoral lagi, kami mendukung Ibu Menteri harus memimpin pemberian bebas visa oleh pemerintah bagi wisatawan terutama Tiongkok dan Autralia”, kata Putra Nababan. I






