DOMINASI DUA FENOMENA ALAM BERBEDA YANG PENGARUHI UPAYA KESIAPSIAGAAN

Bencana banjir bandang di Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (4/9/2021).(Istimewa)
Bagikan Artikel

Sepanjang Agustus 2021, bencana hidrometeorologi masih mendominasi di wilayah Indonesia. BNPB mencatat jumlah bencana alam sebanyak 155 kejadian selama bulan tersebut.

Dari peta sebaran kejadian bencana, hal utama yang perlu dicermati adalah kesiapsiagaan daerah terhadap kejadian bencana yang dipicu oleh fenomena alam yang berbeda yakni hidrometeorologi basah dan kering.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama Agustus 2021 memperlihatkan, di wilayah Kalimantan terdapat dua provinsi mengalami dua jenis bencana yang dipengaruhi oleh fenomena hidrometeorologi basah (curah hujan tinggi) dan hidrometeorologi kering (kekeringan).

Fenomena itu memicu kejadian banjir sekaligus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan frekuensi yang cukup tinggi di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Kejadian banjir di Kalimantan Tengah tercatat tujuh kali dan karhutla 11, sedangkan banjir di Kalimantan Selatan empat kali, dan karhutla 10 kejadian.

Melihat fenomena banjir dan karhutla dalam satu provinsi yang sebetulnya sudah terjadi sejak Juli lalu, BNPB berharap pemerintah daerah dapat melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan hingga ke tingkat masyarakat.

Data BNPB itu menyebutkan, hal ini disebabkan kejadian banjir dan karhutla pada satu provinsi akan memberikan paradigma baru, karena memerlukan bentuk kesiapsiagaan yang berbeda.

“Pemerintah daerah harus menghadapi banjir di beberapa kab/kota dan karhutla di beberapa kab/kota lainnya pada provinsi yang sama,” jelas data tersebut.

Kesiapsiagaan dimaksud juga harus berjenjang dari hulu ke hilir, pusat ke daerah.

Dimulai dengan informasi cuaca yang berpotensi membawa bahaya banjir, banjir bandang dan tanah longsor, serta karhutla pada saat bersamaan.

Kemudian, pemerintah daerah akan meneruskan informasi dan upaya kesiapsiagaan kepada lingkup administrasi yang lebih kecil dan komunitas.

“Dari sini kita mengharapkan peringatan dini bisa ditindaklanjuti dengan aksi segera atau early action,” jelas data BNPB.

Namun, hal tersebut tentu membutuhkan pendetilan informasi cuaca dari lembaga terkait, sehingga pemerintah daerah bisa lebih jelas dalam memberikan panduan kepada masyarakat, misalnya kapan, siapa dan dimana saja yang harus evakuasi saat kondisi terjadi hujan deras.

Sementara itu, berdasarkan Statistik Bencana Agustus 2021, tercatat banjir terjadi sebanyak 61 kali, karhutla 44 kali, cuaca ekstrim 29 kali, tanah longsor 17 kali, kekeringan dua kali, gempa bumi satu kali, dan gelombang pasang atau abrasi satu kali. Sebagai dampak dari bencana tersebut, BNPB mencatat korban meninggal sembilan orang. I


Bagikan Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here