Kepiting bakau menjadi salah satu komoditas perikanan unggulan Papua Tengah yang semakin berpeluang menembus pasar internasional.
Hingga Semester I/2026, nilai ekspor komoditas tersebut tercatat sekitar Rp1,7 miliar, naik 41,67% dibandingkan dengan sepanjang tahun 2025.
Capaian tersebut disampaikan Kepala Karantina Papua Tengah Anton Panji Mahendra dalam Webseries Go Ekspor #5 bertajuk Kepiting Bakau Papua Tengah Tembus Pasar Ekspor” yang digelar secara hybrid.
Dia mengatakan, sepanjang 2025, ekspor kepiting bakau yang difasilitasi Karantina Papua Tengah mencapai sekitar 23 ton dengan nilai Rp1,2 miliar ke Malaysia dan Singapura.
Sementara pada Januari – Juni 2026, volumenya mencapai 22 ton dengan nilai sekitar Rp1,7 miliar.
“Peningkatan nilai ekspor sebesar 41,67% ini menunjukkan bahwa kepiting bakau Papua Tengah memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan sebagai komoditas ekspor unggulan,” jelas Anton.
Menurutnya, Karantina Papua Tengah berkomitmen mendukung pelaku usaha melalui fasilitasi ekspor, sekaligus memastikan komoditas perikanan memenuhi persyaratan kesehatan, mutu, keamanan dan ketentuan negara tujuan.
Data Karantina Papua Tengah juga menunjukkan kepiting bakau menjadi komoditas perikanan dengan volume lalu lintas tertinggi.
Sepanjang Januari – Juni 2026, dari total 1,17 juta kilogram tiga komoditas perikanan yang diawasi, kepiting bakau menyumbang 661.843 kilogram atau 56,5%.
Direktur PT Atlas Agung Abadi Sumaryono menuturkan, pasar ekspor menawarkan peluang ekonomi yang besar karena harga dan permintaannya relatif lebih tinggi dibandingkan pasar domestik.
Perusahaannya telah mengekspor kepiting bakau dan berbagai komoditas perikanan ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Malaysia, Hong Kong, Vietnam, Tailan, Arab Saudi, dan Tiongkok.
Menurut Sumaryono, ekspor langsung dari daerah penghasil juga dapat menekan biaya logistik sekitar Rp10.000 – Rp15.000 per kilogram.
Oleh karena itu, dia mendorong nelayan dan UMKM lokal memanfaatkan peluang ekspor dengan tetap memenuhi ketentuan karantina.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Tengah Carlos Matuan mengatakan pengembangan kepiting bakau harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan nelayan dan keberlanjutan ekosistem.
“Ekspor meningkat, nelayan sejahtera, UMKM berkembang, sumber daya tetap lestari. Itu prinsip yang terus kami pegang,” kata Carlos.
Dia menambahkan, pemerintah daerah akan memperkuat sinergi dengan Karantina, Kementerian Kelautan dan Perikanan, pemerintah kabupaten, nelayan, UMKM dan dunia usaha untuk membangun rantai pasok kepiting bakau yang berkualitas dan berorientasi ekspor tanpa mengabaikan kelestarian mangrove sebagai habitat kepiting.
Melalui program Go Ekspor, Karantina Papua Tengah terus mendorong pengembangan komoditas lokal agar mampu memenuhi standar pasar internasional, sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha di daerah. I
