Optimalisasi Penggunaan Dry Ice Bantu Kurangi Konsentrasi Asap Karhutla

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendukung upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi modifikasi cuaca (OMC), yang pelaksanaannya menggunakan bahan dry ice untuk mengurangi kabut asap yang pekat.

Penggunaan dry ice memiliki tujuan berbeda dari penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl).

Jika NaCl digunakan untuk membantu proses pembentukan hujan, dry ice dimanfaatkan untuk mengganggu lapisan inversi atmosfer yang dapat memerangkap asap di dekat permukaan.

Direktur Operasi Modifikasi Cuaca Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Budi Harsoyo menjelaskan, penggunaan dry ice atau es kering ditujukan untuk membantu mengurangi konsentrasi asap, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.

Lapisan inversi merupakan kondisi ketika pola penurunan suhu udara terhadap ketinggian mengalami perubahan.

Kondisi tersebut dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal, sehingga partikel asap terkumpul dan menyebabkan kabut asap semakin pekat.

Melalui penyemaian dry ice, lapisan inversi diharapkan dapat terbuka, sehingga asap lebih mudah menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Budi menuturkan bahwa pelaksanaan OMC dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer.

Penerbangan pada pagi hari menggunakan dry ice untuk membantu mengatasi lapisan inversi.

Selanjutnya, ketika awan konvektif mulai terbentuk pada siang hingga sore hari, penyemaian menggunakan NaCl dapat dilakukan untuk membantu mempercepat proses pembentukan hujan.

Dalam pelaksanaannya, BMKG berkoordinasi dengan BNPB, TNI, Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta instansi terkait lainnya.

Posko operasi dan dukungan pesawat disiapkan di sejumlah lokasi, termasuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, dengan penempatan serta pelaksanaan operasi menyesuaikan kebutuhan dan kondisi cuaca.

Berdasarkan pemaparan BMKG, penerbangan pada 19 Oktober 2026 di wilayah Sumatra Selatan menunjukkan adanya perbaikan jarak pandang setelah operasi berlangsung pada pagi hingga siang hari.

Baca Juga:  Banjir Jakarta Meluas hingga Rendam 12 RT dan 17 Ruas Jalan

Konsentrasi partikulat halus PM2.5 juga dilaporkan menurun seiring dengan penyebaran asap secara vertikal, tetapi kondisi tersebut tidak berarti asap sepenuhnya hilang.

BMKG menegaskan bahwa penggunaan dry ice bukan ditujukan untuk menghasilkan hujan secara langsung.

Upaya ini menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mengurangi penumpukan asap, sedangkan penanganan karhutla tetap membutuhkan pemadaman di lapangan, termasuk operasi darat dan dukungan udara sesuai kondisi.

Melalui penguatan keselamatan relawan, koordinasi lintas instansi dan pelaksanaan operasi yang disesuaikan dengan kondisi atmosfer, penanganan karhutla diharapkan dapat berjalan lebih aman dan efektif.

Selain penggunaan teknologi untuk memodifikasi cuaca dan operasi pengeboman air ke titik panas dan titik api, pos komando daerah juga mengoptimalkan satuan tugas darat yang terdiri dari berbagai lembaga, termasuk para relawan.

Belajar dari pengalaman dengan jatuhnya korban petugas karhutla, BNPB menekankan pada aspek keamanan dan keselamatan, khususnya kepada para relawan.

Berkenaan dengan hal tersebut, BNPB mengimbau petugas maupun relawan bekerja sesuai arahan pos komando dan rencana operasi sesuai dengan periode operasi yang telah ditetapkan.

Relawan tidak dianjurkan melakukan pemadaman secara mandiri tanpa koordinasi dengan pos komando di tingkat kabupaten atau provinsi.

Pengawasan terhadap keselamatan relawan perlu dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), termasuk dengan menempatkan petugas keselamatan atau safety officer di lokasi operasi.

Sebelum kegiatan dimulai, relawan perlu mendapatkan pengarahan mengenai tugas, kondisi lapangan dan potensi bahaya yang mungkin dihadapi selama pemadaman.

Evaluasi juga perlu dilakukan setelah operasi untuk mengidentifikasi kendala dan memastikan kondisi personel tetap terpantau.

Pengaturan durasi kerja dan pergantian petugas harus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Relawan yang mengalami kelelahan fisik maupun mental perlu diberikan waktu istirahat sebelum kembali bertugas.

Baca Juga:  BNPB Mengimbau Jangan Bakar Lahan

Selain pengaturan kerja, relawan perlu memiliki pengetahuan mengenai karakteristik api, teknik pemadaman dan cara menghindari situasi berbahaya.

Penggunaan alat pelindung diri juga harus menjadi perhatian antara lain helm yang digunakan dengan benar, kacamata pelindung, masker respirator berstandar N95, pakaian tahan panas, sarung tangan tahan panas, dan sepatu lapangan.

Relawan juga diingatkan untuk beristirahat dan minum air ketika merasa lelah atau haus.

Langkah tersebut diperlukan untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama menjalankan tugas di tengah situasi lapangan yang berisiko.

Aspek keselamatan ini menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran operasi penanganan karhutla.

BNPB mengapresiasi atas kontribusi relawan dalam upaya penanganan karhutla, karena di tengah upaya pemadaman, keselamatan relawan menjadi hal penting yang harus diperhatikan selama operasi berlangsung. I

 

 

Kirim Komentar