Sayuran Indonesia Tembus Pasar Singapura

Kedekatan geografis Batam dengan negara tetangga, seperti Singapura membuka peluang strategis bagi pengembangan pasar pangan segar Indonesia.

Namun, peluang tersebut perlu didukung dengan penerapan standar keamanan pangan yang kuat dan konsisten sejak proses budidaya hingga produk sampai ke tangan konsumen.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andriko Noto Susanto mendorong penguatan standar keamanan pangan sebagai pondasi dalam meningkatkan daya saing pangan segar Indonesia, termasuk produk hortikultura yang memiliki peluang untuk menjangkau pasar internasional.

“Peluang pasar global harus kita jawab dengan standar keamanan pangan yang kuat. Kalau pangan kita aman dan diproduksi dengan baik, produk Indonesia sangat mampu bersaing di pasar internasional,” ujarnya saat mengunjungi unit produksi sayuran Batamindo Green Farm di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Dalam kunjungan tersebut, Andriko meninjau secara langsung proses produksi berbagai komoditas sayuran, mulai dari penerapan praktik budidaya hingga penanganan produk di fasilitas rumah pengemasan (packing house).

Berdasarkan hasil peninjauan, proses produksi sayuran di PT Batamindo Green Farm telah menerapkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP), sedangkan proses penanganan di packing house telah menerapkan standar keamanan pangan yang baik.

“Hari ini kami menyaksikan bagaimana sayur – sayuran yang diproduksi di Batam Indo ini memenuhi kaidah – kaidah keamanan pangan yang baik. Di tingkat budidaya dilakukan dengan Good Agricultural Practices. Kemudian, di packing house sudah menerapkan SPPB-PSAT,” tuturnya.

Menurut Andriko, penerapan keamanan pangan yang baik menunjukkan bahwa standar keamanan dan pengembangan pasar dapat berjalan beriringan.

Produk yang diproduksi secara baik memiliki peluang untuk menjangkau konsumen dengan tuntutan mutu yang semakin tinggi, termasuk segmen pasar premium.

Baca Juga:  Kementerian P2MI Bidik Sektor Pekerjaan Formal di Singapura

“Ini melayani konsumen-konsumen kelas premium. Kami berterima kasih karena sudah menerapkan Good Agricultural Practices, good handling, good retailing, manufacturing, dan lain – lain,” katanya.

Andriko menjelaskan bahwa mengharapkan dilengkapi dengan sertifikat Prima, karena sertifikasi ini perlu dikuatkan, sekaligus ke depan kami mendorong contract farming dengan petani sekitar agar praktik baik yang sudah diterapkan dapat ditransfer dan semakin banyak petani menghasilkan pangan segar yang aman dan bermutu.

Dia berharap penerapan praktik keamanan pangan yang baik dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha pangan segar asal tumbuhan lainnya.

Menurutnya, semakin banyak pelaku usaha yang menerapkan standar keamanan pangan sejak budidaya hingga penanganan pascapanen, semakin kuat pula pondasi pangan segar Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Mudah – mudahan nanti seluruh pelaku usaha pangan segar asal tumbuhan menerapkan seperti apa yang dilakukan oleh Batamindo Green Farm,” tegas Andriko.

Bagi Bapanas, penerapan keamanan pangan sejak hulu merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pangan segar yang aman, bermutu dan berdaya saing.

Melalui pembinaan, pengawasan, serta penguatan standar dan sertifikasi, produk pangan segar Indonesia diharapkan semakin mampu memenuhi tuntutan konsumen dan memperluas akses ke pasar domestik maupun global. I

 

 

Kirim Komentar