BNPB dan Kemenko Polkam Bahas Penanganan Karhutla di Enam Provinsi

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menerima kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman di Graha BNPB, Jakarta.

Pertemuan ini membahas isu – isu terkini seputar kejadian bencana yang sedang terjadi di Indonesia, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Suharyanto menyatakan bahwa kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, khususnya di enam provinsi dengan lahan gambut, masih dalam kategori berat.

Hingga saat ini, lanjutnya, tim gabungan tengah berupaya memadamkan api yang membakar sekitar 186 hektare lahan gambut di wilayah tersebut.

Keenam provinsi yang menjadi fokus utama penanganan tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.

“Kondisi Karhutla sampai hari ini memang masih berat di enam provinsi lahan gambut. Tadi, kami laporkan ke Bapak Menko, yang sedang dipadamkan hari ini ada 186 hektare,” ujar Kepala BNPB.

Selain di lahan gambut, BNPB juga mencatat terdapat 13 kejadian kebakaran di luar enam provinsi prioritas dengan luas mencapai lebih dari 400 hektare.

Namun, BNPB menyebut kebakaran di luar lahan gambut relatif lebih mudah diatasi, karena terjadi di lahan mineral.

“Pemadaman di lahan gambut sangat sulit. Hari ini bisa dipadamkan semua, belum tentu besok sudah selesai karena bisa muncul titik kebakaran baru,” jelasnya.

Kondisi paling parah saat ini terpantau di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, dengan kabut asap pekat dilaporkan telah mengganggu aktivitas penerbangan.

Sementara itu, di Jambi yang sebelumnya sempat terkendali, kembali muncul titik api baru di kawasan Taman Nasional Bukit Sembilan yang menghanguskan hingga 300 hektare lahan.

Baca Juga:  Banjir Longsor Nduga Papua Pegunungan Sebabkan 15 Orang Hilang

Saat ini, luasan api di taman nasional tersebut telah berhasil ditekan menjadi sekitar 140 hektare dan beruntungnya wilayah tersebut bukan merupakan lahan gambut.

Terkait dengan dampak kabut asap terhadap kesehatan, BNPB terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan.

Distribusi perlengkapan seperti masker telah dilakukan secara masif di wilayah – wilayah terdampak.

BNPB mengakui adanya peningkatan jumlah warga yang jatuh sakit akibat paparan asap dan pelayanan kesehatan pun terus dimaksimalkan sesuai arahan Menteri Koordinator.

Pihak berwenang berharap pada turunnya hujan sebagai solusi alami yang paling ampuh.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan akan mulai turun paling cepat pada minggu ketiga Oktober, serta paling lambat pada minggu ketiga November 2026.

BNPB menyoroti fenomena El Nino tahun 2026 yang datang lebih cepat dari siklus biasanya.

“Biasanya kita mengalami siklus empat tahunan, seperti tahun 2015, 2019 dan tahun 2023. Seharusnya siklus berikutnya di 2027, tetapi alam tidak bisa diprediksi. Di tahun 2026 kita kembali mengalami kondisi El Nino dengan kebakaran yang cukup besar,” ungkap Suharyanto.

Selama sebulan ke depan, BNPB beserta seluruh jajaran terkait akan terus bekerja keras melakukan pemadaman dan mendistribusikan peralatan yang dibutuhkan masyarakat agar bencana karhutla ini dapat segera berlalu. I

 

Kirim Komentar