PENDAPATAN KAI NAIK SEMESTER I/2021 JADI Rp7,46 TRILIUN

Penumpang kereta api. (Istimewa)
Bagikan Artikel

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatatkan kenaikan pendapatan menjadi Rp7,46 triliun di Semester I/2021. Kinerja ini sekaligus memangkas rugi bersih yang dialami perseroan.

Menurut Corporate Deputy Director of Finance Consolidation KAI Jagatsyah Aminullah, kerugian perusahaan hingga akhir tahun ini bisa berada di Rp700 miliar, dari sebelumnya di tahun 2021 mencatatkan rugi bersih Rp1,7 triliun.

Dia menyatakan, KAI terus berupaya melakukan efisiensi untuk mengurangi beban kinerja keuangan perusahaan akibat ketidakpastian dampak pandemi Covid-19. Salah satunya dengan integrasi data perpajakan.

“Perseroan terus berinovasi secara efektif dan efisien agar kinerja keuangan bisa lebih lincah dalam merespons dampak yang timbul akibat pandemi,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/10/2021).

Jagatsyah menuturkan, hal yang dilakukan perseroan untuk menekan kerugian yakni efisiensi dari sisi internal maupun eksternal. Mulai dari aspek perbankan, seperti relaksasi pinjaman hingga efisiensi di bidang perpajakan.

“Kami mengoptimalkan semua fasilitas dan insentif yang diberikan pemerintah. Sejalan dengan itu kami juga mengaplikasikan platform integrasi data perpajakan secara digital,” tuturnya.

Pada sektor perpajakan, lanjut Jagatsyah, dengan kepemilikan aset mencapai Rp54,06 triliun, maka pajak menjadi sangat krusial lantaran KAI memiliki transaksi hingga 12.000 dokumen pajak per bulan.

Tanpa adanya integrasi data maka akan membutuhkan keterlibatan banyak orang dan memakan waktu. Oleh karena itu, dilakukan integrasi data perpajakan, yang merupakan konektivitas host to host antara platform  Enterprise Resource Planning (ERP) wajib pajak dengan server otoritas pajak.

Dengan kata lain, sistem perpajakan KAI telah terintegrasi secara realtime dengan server Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Jagatsyah mengungkapkan, dengan integrasi data perpajakan, resource tim pajak KAI naik level dari sekadar input-admin menjadi analis pajak.

Jadi, dia menambahkan, tim pajak KAI bisa menghilangkan potensi cost of compliance maupun human error. Di sisi lain, lanjutnya, KAI juga mampu melihat potensi bisnis dan pendapatan baru dari data yang dianalisa itu.

“Dengan berbagai efisiensi ini tidak ada pemberhentian kerja secara massal di KAI dan organisasi telah lebih siap menghadapi ketidakpastian dampak risiko pandemi,” tuturnya. I

 

 

 

 


Bagikan Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here