TIGA STRATEGI UNTUK REAKTIVASI SEKTOR PAREKRAF DI BALI

Bagikan Artikel

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaprekraf) Sandiaga Salahuddin Uno bersama dengan Gubernur Provinsi Bali, I Wayan Koster mengadakan pertemuan membahas strategi mereaktivasi sektor parekraf di Provinsi Bali.

Pertemuan berlangsung di Gedung Jaya Sabha, Denpasar, Bali, Kamis (10/6/2021) malam. Turut hadir dalam pertemuan ini Wakil Gubernur Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf Kurleni Ukar, Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya, dan Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya.

Seperti diketahui pada 2019, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali mencapai 54%. Namun, akibat pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi di Bali minus hingga 9,3% secara kumulatif.

Hal ini merupakan kontraksi terdalam yang pernah dialami Provinsi Bali. Untuk itu pemerintah terus melakukan upaya reaktivasi Bali.

Usai melakukan pertemuan tersebut, Menparekraf menjelaskan ada tiga strategi untuk mereaktivasi sektor parekraf di Bali.

Ketiga strategi tersebut adalah percepatan program vaksinasi bagi masyarakat Bali. Direncanakan 70% penduduk Bali bisa mendapatkan vaksinasi, yaitu sebanyak tiga juta orang, dari jumlah penduduk Bali yang mencapai 4,3 juta orang.

“Kami terus menyiapkan pemulihan pariwisata di Bali. Kami melihat dari penanganan Covid-19 sudah jauh lebih baik, dan vaksinasi ini kami apresiasi, bahwa Bali sebagai provinsi yang mendapatkan presentase vaksinasi tertinggi dari targeted group,” ujar Menparekraf.

Selain dari pada program vaksinasi, kepatuhan terhadap protokol kesehatan juga akan diperketat. Beberapa program Kemenparekraf untuk membantu hal itu di antaranya melalui Gerakan BISA yang masih digulirkan di destinasi wisata yang ada di Bali dan juga daerah lainnya yang ada di Indonesia.

Kemudian, jumlah sertifikasi Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan) akan terus ditingkatkan.

Jadi, Sandiaga menuturkan, dari segi jumlah destinasi wisata, hotel dan restoran yang tersertifikasi, Bali yang tertinggi dari segi kepatuhannya terhadap CHSE.

“Mulai bulan Juli, kita akan memulai program CHSE dan Bali kita targetkan dua kali lipat dari tahun lalu, menjadi 1.200 destinasi wisata, hotel, dan restoran yang akan tersertifikasi CHSE,” jelasnya.

Strategi terakhir untuk jangka menengah panjang, penyiapan dari reaktivasi Bali dan diversifikasi ekonomi Bali. “Kita harapkan akan mempercepat pemulihan pariwisata di Bali sesuai dengan pengendalian Covid-19 yang lebih baik lagi kedepannya.”

Rencana jangka menengah panjang itu seperti memperbaiki infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara, menyiapkan fasilitas pariwisata seperti kegiatan MICE, dan lainnya.

Di samping itu, Kemenparekraf juga akan hadir untuk membantu pemulihan ekonomi Bali dengan program-program yang tepat manfaat, tepat sasaran, tepat waktu, dan tentunya berkeadilan.

Program itu seperti Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) yang dianggarkan sebesar Rp60 miliar dan pendaftarannya resmi dibuka pada Jumat (4/6/2021).

Ada juga program Dana Hibah Pariwisata yang tahun ini akan diperluas dan diperbesar jumlahnya menjadi Rp3,7 triliun.

Selain itu, juga ada dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan seperti Arabian Travel Market (ATM) Dubai 2021, dan Bali & Beyond Travel Fair 2021 yang berlangsung di Nusa Dua pada 8-12 Juni 2021. I

Kirim Komentar

Bagikan Artikel